Pernyataan itu disampaikan oleh Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat meninjau sebanyak 1.300 oengungsi di Lapangan Jumoyo, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.
"Janganlah, lebih baik tetap saja di sini di lokasi pengungsian biar aman. Saya minta sebelum dinyatakan aman tetap bertahan. Biar seminggu atau sebulan tidak apa-apa," kata Jusuf Kalla.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jusuf Kalla juga meminta rumah sakit merawat seluruh korban dengan baik serta meminta Pemkab Magelang dan seluruh warga di lereng Merapi untuk menjadikan tragedi tersebut sebagai pengalaman.
"Ini bisa menjadi pengalaman yang berharga sehingga ke depan bisa menangani bencana secara lebih baik dan terencana. Tolong patuhi imbaun dan aturan dari pemerintah. Aturan dibuat berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi," imbuh JK.
JK yang datang sekitar pukul 17.00 WIB ini begitu turun dari mobil langsung menyambangi sejumlah pengungsi yang berjejal di tenda militer.
Saat berkeliling tenda, JK beberapa kali harus mengangkat ujung celananya agar tidak basah. Maklum sejam sebelum kedatangan JK Kabupaten Magelang diguyur hujan deras.
JK mengkhawatirkan jika hujan teras tetap mengguyur puncak Merapi bisa menimbulkan banjir material vulkanik.
"Jika hujan deras material vulkanik bisa turun," terang JK sambil menjelaskan dengan isyarat tangan. Sejumlah pengungsi yang ditemui JK langsung bercerita bagaimana suasana mencekam saat Gunung Merapi meletus.
"Abu Pak tebal sekali, bau belerang. Rumah saya juga ada hujan kerikil dan pasir. Pohon salak saya ambruk ga bisa dipanen lagi," curhat Bu Jumillah (39), warga Dusun Jrakah, Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung.
Menanggapi hal ini, JK mengaku sebagai seorang pengusaha dirinya siap memberikan bantuan.
"Nanti akan kita bantu," janji JK.
Pengungsian Overload
Bupati Magelang Ir Singgih Sanyoto menyatakan Pemkab hanya mempersiapkan tanggap darurat untuk 2.260 pengungsi sesuai rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.
Namun letuasan Merapi sangat besar warga yang tinggal di luar wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III ikut panik melarikan diri sehingga kapasitas barak pengungsian mengalami overload.
Saat ini berdasarkan catatan Satlak Penanggulangan Bencana (PB) Kabupaten Magelang jumlah pengungsi mencapai 28.900 orang. Para pengungsi tersebut berasalan dari 19 desa dari tiga kecamatan di Kabupaten Magelang serta satu desa dari Kabupaten Boyolali yakni Desa Tlogolele. Para pengungsi ini ditampung di 39 titik pengungsian yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Mereka menempati barak pengungsian, balai desa, gedung pertemuan serta gedung sekolah.
"Persiapan kami hanya untuk 2.260 pengungsi namun kini mendekati 29 ribu. Tentu kami kewalahan," kata Singgih Sanyoto.
Sasongko Tejo Ketua PMI Jawa Tengah menyatakan PMI siap membantu para korban bencana letusan Gunung Merapi. Mengenai dapur umum yang kurang ia mengaku siap memberikan pasokan logistik ke sejumlah titik pengungsian.
"Jawa Tengah telah mengerahkan sekitar 600 relawan dari berbagai daerah, kata Sasongko. Mereka tidak hanya dikirim ke Magelang namun juga Klaten dan Boyolali. Untuk jumlah pengungsi berdasarkan catatan PMI Jateng mencapai 36.330 orang.
"Pengungsi terbesar ada di Magelang dengan 28.900 orang. Di Klaten ada 5.330 dan Boyolali 2.100," kata Sasongko.
(anw/anw)











































