Sultan: Mbah Maridjan Mau Dievakuasi Selepas Magrib

Sultan: Mbah Maridjan Mau Dievakuasi Selepas Magrib

- detikNews
Rabu, 27 Okt 2010 18:32 WIB
Jakarta - Mbah Maridjan sebenarnya bersedia dievakuasi pada Selasa 26 Oktober, selepas magrib. Namun sebelum diungsikan, pria yang bergelar Raden Ngabehi Surakso Hargo itu ingin salat terlebih dulu. Namun sayang, awan panas alias wedhus gembel telanjur menggulung rumah Mbah Maridjan.

"Mbah Maridjan bersedia dievakuasi setelah magrib, tapi dia bilang, mau salat dulu. Nah waktu salat itu, awan panas turun," kata Sultan saat wawancara langsung di TV One, Rabu (27/10/2010).

Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi bersujud di dapur rumahnya. Jenazah Mbah Maridjan dikenali dari baju batik dan kopiah yang dipakainya. Saat ini, jenazahnya masih berada RS Dr Sardjito, Yogyakarta. Hasil tes DNA dikirim ke Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mbah Maridjan menjadi juru kunci Merapi lebih 20 tahun atas titah Sultan HB IX. SK pengangkatannya sebagai kuncen dibuat pada masa HB X. Namun, menurut Sultan, sebenarnya Maridjan bukan juru kunci Merapi, tapi juru kunci keraton untuk ritual-ritual di Merapi.

Saat Merapi meletus pada 2006, dikabarkan Mbah Maridjan sempat memiliki hubungan kurang mesra dengan HB X karena enggan mematuhi perintah HB X agar mengungsi. Saat itu, desa Maridjan selamat dari wedhus gembel. Tapi tahun ini, Mbah Maridjan tidak selamat.

Gunung Merapi merupakan bagian kosmologi Jawa yang penting dan dianggap satu kesatuan dengan Keraton Yogya.

(ken/asy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads