"Ini yang benar selamat kondisinya lemah, apa meninggal? Kok simpang siur. Semalem itu ada kabar dia ditemukan selamat, tapi kondisinya lemes. Tapi pagi ini kabarnya kok lain lagi," kata Budi Santoso, salah satu perangkat desa.
Budi sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya sesama perangkat desa di salah satu pengungsian di Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY, Rabu (27/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mbah Maridjan kan roso (kuat), dia kan linuwih (punya kesaktian). Moso meninggal," ujar seorang ibu lansia.
"Tapi kok ora ono gambare (tidak ada foto) Mbah Maridjan yo. Ger omongan tok, ora ono gambare. Iki tenanan opo ora (cuma kabar, tidak ada foto. Ini betul atau bukan)?" timpal ibu lansia yang lain.
Tidak hanya itu, di pasar Pakem yang berjarak 1 km dari barak pengungisan, para pengunjung di lorong-lorong pasar juga ramai membiarakannya.
"Mas e wartawan nggih? Opo bener Mbah Maridjan meninggal? Kok kulo nggak percaya (Mas, Anda wartawan ya? Apa betul Mbah Maridjan meninggal? Saya tidak percaya)," kata Sri (38), pemilik warung makan.
"Bener kok. Wis metu neng TV, jare meninggale wae sujud (Betul kok. Sudah ada tanyangannya di televisi. Jasadnya dalam konsidi sujud). Mbah Maridjan kan memang sering nang Mushola ," timpal pengunjung yang lain.
"Nek ngono, engko gantine sopo (kalau begitu lalu siapa yang menggantikannya sebagai juru kunci Gunung Merapi)?" sahut Sri.
(lrn/lh)











































