Ingin Menengok Rumah, Warga Naik Lereng Merapi

Ingin Menengok Rumah, Warga Naik Lereng Merapi

- detikNews
Rabu, 27 Okt 2010 07:17 WIB
Ingin Menengok Rumah, Warga Naik Lereng Merapi
Jakarta - Baru beberapa jam di pengungsian, rasa "homesick" sudah menghinggapi puluhan orang pengungsi. Mereka berupaya kembali ke dusun mereka di lereng Gunung Merapi untuk menengok kondisi tempat tinggalnya.

Surti (61), adalah satu satu di antaranya. Berombongan dengan ibu-ibu lain tetangganya, Rabu (27/10/2010) pagi, mereka terlihat berjalanΒ  naik ke lereng Merapi.

"Badhe wangsul kemawon (saya mau pulang saja)," ujar warga dusun Kaliurang Lor, Kaliurang, Sleman, itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lokasi dusun tempat Surti tinggal berjarak sekitar 7 km dari puncak Gunung Merapi. Lokasi relatif jauh lebih aman dari gelombang awan panas dari dusun tempat tinggal Mbah Maridjan yang berjarak 2 km dari puncak Merapi.

"Isuk niki kan sampun aman, nggih mboten menopo-menopo wangsul (pagi ini kan sudah aman, jadi ya nggak apa-apa pulang)," jelas Surti.

Seratusan orang pengungsi lainnya juga terlihat meninggalkan empat titik pengungsian yang berdiri berdekatan. Ada yang mengaku ingin pulang menengok kondisi rumah seperti Surti, ada pula yang mengaku ingin pindah ke kediaman sanak keluarganya di daerah lain.

Sedangkan warga lain yang memilih bertahan di pengungsian, terlihat tenang. Sebagian sedang antre menggunakan kamar mandi, memandikan anak, membantu memasak di dapur umum atau sekadar saling berbincang satu sama lain.

Sementara pemandangan kawasan Kaliurang pagi ini, tampak 'memutih'. Tidak ada bangunan, kendaraan maupun pepohonnan yang bebas dari lapisan abu vulkanik berwarna putih yang sejak Selasa sore kemarin menyembur dari kawah Gunung Merapi.

Gunung Merapi merupakan gunung paling berbahaya di Indonesia. Gunung ini terletak di perbatasan Sleman (DIY), Magelang, Boyolali dan Klaten (Jateng). Gunung memberikan kesuburan dan panorama indah, namun juga merenggut jiwa jika memuntahkan isi perutnya. Korban tewas terbanyak terjadi pada 1972 yaitu 3.000 orang.
(lh/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads