Demikian kondisi di balai desa Hargo Binangun, Sleman, DI Yogyakarta, yang menjadi tempat pengungsian warga lereng Merapi, Selasa (26/10/2010) malam. Warga yang sudah terlebih dahulu tiba di sana, bergerombol menonton televisi yang menayangkan hiruk pikuk yang berlangsung di luar ruangan.
Suasana di luar balai desa memang cukup ramai. Warga yang berusia muda hingga paruh baya banyak yang memilih menyaksikan langsung kesibukan evakuasi meski risikonya adalah tersiram hujan abu. Semuanya mengenakan masker dan beberapa mengenakan helm atau topi sebagai pelindung rambut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Jarak antara balai desa Hargo Binangun dengan puncak Gunung Merapi hanya sekitar 10 km saja. Maka bagunan yang dinding dan atapnya sudah berselimut debu itu merupakan pos pengungsian yang terdepan sehingga pilihan para jurnalis televisi melakukan siaran langsung.
Dampak semburan hujan abu Gunung Merapi terasa hingga radius 15 km dari puncaknya. Debu yang melapisi sepanjang Jl Kaliurang semakin tebal dan setiap kali ada mobil melintas, pasti mengepul luar biasa.
Sebenarnya tidak terlalu banyak mobil yang berlalu lalang, hanya ambulans dan SAR. Sementara warga sipil dilarang keras oleh polisi yang berjaga untuk memasuki kawasan lereng, apa pun alasan yang disampaikan.
"Kalau mau mengungsi, turun gunung boleh. Tapi naik gunung, maaf. Sampai di sini saja ya Mas, berbahaya," ujar seorang polisi yang mengenakan masker.
(lh/nrl)











































