Demikian pula dengan atap rumah warga di Desa Ngargomulyo, Desa Babadan, Desa Krinjing Desa Kemiran, Desa Kaliurang. Desa-desa tersebut merupakan desa terdekat dengan puncak merapi.
"Pohon-pohon di hutan dan rumah saya gentengnya sudah terlihat keputih-putihan," kata Giono (45), warga Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Magelang, Selasa (26/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah petugas di pos penjagaan, seperti Pos Babadan, Kecamatan Dukun, Magelang dan Pos Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang, mengatakan fenomena hujan abu belum terjadi. Menurut mereka, debu yang bertebangan itu disebabkan guguran lava.
"Itu bukan hujan abu, tetapi akibat guguran lava yang meluncur ke bawah. Kemudian material yang dibawa oleh luncuran lava menimbulkan asap dan debu serta terbawa angin,"tegas Yulianto, petugas Pos Babadan.
Hal yang sama disampaikan, Safari (52), petugas Pos Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang. Dia menegaskan hujan abu belum terjadi.
"Bukan, belum terjadi hujan abu. Hanya ekses material yang dibawa oleh luncuran lava yang menjadi debu," tegas Safari.
Menurut Safari, sesuai dengan buku pedoman yang berjudul "Pengantar vulkanisme Dasar Gunungapi" karangan Kepala BPPTK Jogjakarta SUbandrio, hujan abu akan menyebabkan kerusakan lahan pertanian, rumah-rumah, transportasi darat, polusi udara dan terganggunya jalur penerbangan.
"Tapi sampai sekarang belum ada keluhan warga sekitar lereng Merapi terkait banyaknya debu yang merambah di hutan dan rumah penduduk yang dekat dengan puncak Merapi," ungkap Safari.
(djo/djo)











































