Di Tempat Pengungsian Akhir (TPA) Tanjung, Magelang, Jawa Tengah, misalnya, sejumlah anak terlihat serius belajar di sekolah darurat. Mereka belajar sesuai tingkat pendidikan masing-masing.
Sekolah darurat itu bukanlah sebuah bangunan sederhana yang terbuat dari tenda. Yang dimaksud sekolah darurat ini, anak-anak tersebut dititipkan untuk ikut belajar di sejumlah sekolah yang ditetapkan sebagai Sekolah Darurat oleh Dinas Pendidikan setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sekolah itu tidak mencukupi, nanti kita akan buat dua shift. Jadi kalau tidak masuk siang hari, ya pagi hari," kata Kepala Dinas Pendidikan Magelang, Ngaderi.
Namun berdasarkan pantauan detikcom, sejumlah anak tampak tidak betah. Bahkan ada beberapa di antaranya enggan bersekolah. Mereka agaknya masih butuh waktu untuk mengenali lingkungan barunya.
Dariyatun (47), Kepala Sekolah SD Negeri Tanjung, mengatakan ada 27 anak pengungsi yang dititipkan di sekolahnya yang berjarak sekitar 500 meter dari TPA Tanjung. Ke-27 anak itu berasal dari SD Negeri Balerante, SD Negeri Ngargosuko, SD Al-Iman Ngargosuko, SD IT Al Umar Ngargosuko dan SD Negeri Kaliurang.
"Laki-lakinya 12 orang. Kebetulan di sekolah kami ada dua kelas yang kosong sehingga tidak perlu dibagi menjadi dua shift. Kalau ada yang belum mau sekolah kami maklum. Mereka kan tidak kenal dengan siswa dan asing dengan lingkungan di sini," ungkap Dariyatun.
(djo/djo)











































