Di kalangan wartawan, Foke terkenal sensitif jika ditanya soal banjir dan macet. Misalnya saja, saat ia dimintai tanggapanya atas kritik yang dilancarkan sejumlah pihak di 3 tahun masa kepemimpinannya.
"Ngurusin Jakarta itu bukan kayak bikin kerak telor, gak bisa instan. Ada tahap-tahapannya, dan sekarang kita sedang melakukan itu," kata Foke dengan nada tinggi di Balaikota, Jakarta Pusat, 8 Oktober lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagus, buru-buru lu pindah dari Jakarta, gue girang juga," kata Foke kepada wartawan, usai apel peringatan 65 tahun Rapat Raksasa Ikada di Monas, Jakarta, 20 September lalu.
Foke pun kerap berkilah, kalau banjir yang terjadi di ibukota hanyalah genangan air belaka. Dalam suatu kesempatan, Foke pernah menjelaskan perbedaan kalau genangan dan banjir itu berbeda. Tidak seperti banjir, jelasnya, genangan bisa surut dalam waktu singkat.
Foke pun tidak membantah jika di Jakarta akan banyak terjadi genangan air memasuki musim penghujan.
"Ini musim hujan. Dari bayi sampai nenek-nenek juga tahu kalau bakal banyak yang masih tergenang," ujarnya dengan nada kurang simpatik November 2009 lalu.
Dalam beberapa kesempatan wawancara, Foke juga paling bereaksi jika penjelasannya dipotong oleh pertanyaan wartawan.
"Entar dulu, gue belum selesai ngomong. Gubernurnya ane bukan ente," celetuknya.
Namun, apa yang dilakukan Foke pagi ini sangat kontras dengan yang sebelumnya. Saat wartawan meminta komentarnya terkait 'tragedi' Jakarta semalam, Foke cuma tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Mau tanya terkait banjir semalam, Pak," kata wartawan yang menunggunya sejak pagi, Selasa (26/10/2010).
Mendengar pertanyaan itu, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu tidak menghentikan jalannya. Alih-alih menjawab pertanyaan, Foke malah berbalik melempar senyum dan melambaikan tangan. Foke yang mengenakan safari abu-abu itu bahkan tampak cool.
Apakah Foke memang sudah tidak bisa menangani banjir dan macet di Jakarta. Ikuti di Pro dan Kontra! (lrn/fay)










































