"Besarnya kejahatan tersebut akan membuat setiap orang benar marah. Itu lagi-lagi memberikan tanda tanya besar terhadap citra AS yang memproklamirkan diri sebagai juara HAM dunia," tulis China Daily dalam komentarnya seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (25/10/2010).
Hal itu ditulis media China Daily setelah pemerintah Beijing dikritik dalam laporan oleh komisi para pejabat pemerintah dan anggota parlemen AS. Dalam laporan itu, AS mengkritik kekerasan yang kian meningkat oleh Beijing terhadap para aktivis HAM dan pengacara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama bertahun-tahun, AS telah menggunakan banner HAM untuk mengkritik yang lain, khususnya negara-negara berkembang," demikian China Daily. "Namun AS menolak untuk mengklarifikasi atau meralat pelanggaran-pelanggaran HAM-nya sendiri seperti tercatat dalam dokumen-dokumen WikiLeaks," demikian China Daily.
Menurut media pemerintah China itu, dokumen-dokumen tersebut membuat dunia melihat standar ganda dan sepihak AS.
"AS akan kehilangan kredibilitas jika tak bisa menghadapi pelanggaran HAM-nya sendiri dengan tepat," tegas China Daily.
Dokumen-dokumen yang dimuat WikiLeaks tersebut berisi laporan perang Irak sejak 2004 hingga 2009. Dokumen tersebut memberikan gambaran perang yang terjadi, khususnya kekerasan terhadap warga sipil Irak oleh pasukan keamanan dan para tahanan perang.
Dokumen tersebut menunjukkan bahwa militer AS tutup mata menyaksikan penyiksaan dan kekerasan yang terjadi terhadap warga sipil. Dalam dokumen disebutkan, sekitar 15 ribu warga sipil tewas.
Sebanyak 400 ribu dokumen yang dipublikasikan oleh situs WikiLeaks tersebut, sebagian besar ditulis oleh prajurit yang bertugas di lapangan. Detail laporan juga menyebutkan aksi penembakan terhadap warga sipil yang dilakukan oleh pasukan AS.
(ita/nrl)











































