Demikian kata Bima Arya Sugiarto selaku mantan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Australia, melalui surat elektronik, Senin (25/10/2010). Surat elektronik dia kirim seusai jadi pembicara dalam simposium internasional PPI di London, Inggris.
"Ironis jika PPI tidak dimanfaatkan, karena PPI pastinya mampu memenuhi kebutuhan legislatif untuk memberikan kontribusi pemikiran konstruktif," ujar Bima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk kalangan legislatif, dapat lebih fokus menangani tugas-tugas di dalam negeri seperti legislasi dan pengawasan kinerja pemerintah. Di samping penghematan uang negara secara signifikan yang semula dianggarkan untuk membiayai kegiatan studi banding ke luar negeri.
"Jika PPI dimanfaatkan dengan baik tentunya tidak lagi ada istilah studi banding. Jadi dapat menekan biaya perjalanan ke luar negeri anggota Dewan dengan melakukan kerja sama yang dilembagakan antara PPI dengan parlemen," ujar Bima.
Dia yakin, data-data yang dikumpulkan dan diolah oleh PPI tidak kalah komprehensif dibandingkan hasil staf ahli anggota DPR. Sebab banyak sekali anggota PPI yang belajar di tingkat doktoral yang tentunya sangat kompeten dalam melakukan riset.
โApalagi, PPI memiliki banyak anggota di tingkat doktoral yang mampu memberikan masukan dan pandangan kritis bagi proses legislasi dan program pembangunan di tanah air, sesuai keahlian dan perspektif beragam sesuai negara tempat mereka menuntut ilmu,โ terang Ketua DPP PAN ini.
Simposium Internasional PPI Sedunia di London berlangsung dari 23-24 Oktober 2010. Pesertanya adalah para anggota PPI yang tersebar di berbagai negara di Eropa, Amerika, Asia, Afrika dan Autralia.
(lh/nrl)











































