Disparitas itu menyebabkan penumpukan bus untuk mengisi bahan bakar (BBG) gas di stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang harganya lebih lebih murah.
"Perjalanan terganggu karena jarak tunggu antar bus menjadi lebih lama dari biasanya. Penumpang mau tidak mau harus antre lebih lama," ujar Humas Badan Layanan Umum (BLU) TransJakarta Yuliani Fevta saat berbincang dengan detikcom, Senin (25/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita hanya isi di SPBG Pertamina yaitu di Pesing, di Jl Pemuda dan Pancoran. Sedangkan SPBG dari PGN yaitu Rawa Buaya dan di Jl Perintis Kemerdekaan, kita tidak ke sana lagi," terangnya.
Hal tersebut dikarenakan SPBG dari PGN menaikkan harga dari Rp 2.562 per liter setara premium (Lsp) menjadi Rp 3.600/Lsp. Akibatnya 430 armada bus transJ dari 8 koridor menumpuk di tiga SPBG milik Pertamina tersebut.
"Perbedaan harganya terlalu tinggi, makanya kita hanya mengisi di SPBG Pertamina. Kita minta Pemerintah bisa menyeragamkan harga yang sesuai," terangnya.
Sebelumnya DPRD DKI juga mendesak agar Kementerian ESDM segera menyeragamkan harga BBG untuk bus TransJ. Bila tidak, maka dengan beroperasinya koridor IX dan X pada akhir Desember mendatang justru akan menambah permasalahan baru.
"Sekarang saja sudah terganggu karena bus banyak yang antre, bagaimana kalau armada bus ditambah lagi. Pasti tambah macet dan penumpang semakin terlantar," ujar Ketua Komisi B DPRD Selamet Nurdin kemarin.
Ketua komisi yang membidangi transportasi di Jakarta ini pun mendesak agar pemerintah pusat segera mengatasi disparitas harga BBG ini.
"Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian ESDM harus bisa menyeragamkan harga bahan bakar gas untuk bus TransJ. Karena kalau tidak, pelayanan busway tidak akan maksimal," terang Ketua DPW PKS Jakarta ini.
(her/nrl)










































