"Gedung ini sangat tidak layak untuk tempat pengungsian karena atap bocor dan tidak ada pintu," kata Kadir dalam press rilis yang diterima detikcom, Minggu (24/10/2010).
Hal itu diungkapkan Kadir usai meninjau tempat pengungsian warga
dari ancaman bahaya Gunung Merapi di Desa Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Sabtu (23/10) kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kadir mengungkapkan, kondisi atap bangunan yang terbuat dari seng sudah berlubang di banyak tempat, sehingga air hujan menggenangi lantai barak. Besi bangunan juga sudah berkarat, tembok berlumut, dan pintu juga rusak.
"Ini tidak layak untuk barak pengungsi," katanya.
"Penyediaan tempat pengungsian menjadi kewenangan pemerintah daerah, tetapi karena hingga status Merapi "siaga" belum ada upaya dari pemkam, kami akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana provinsi maupun nasional," katanya.
Ia berharap, pemkab atau pemprov untuk lebih tanggap dengan kondisi ini. Menurutnya, untuk memperbaiki atap gedung ini cukup dengan dana Rp 50 juta. "Nilai uang itu tidak seberapa dibanding dengan keselamatan ribuan jiwa manusia," katanya.
Selain itu, jalur evakuasi bagi warga yang berada di kaki Gunung Merapi telah rusak. Hal itu mengakibatkan proses evakuasi tidak berjalan lancar.
"Kami lihat jalur evakuasi antara Mangunsuko hingga Krinjing rusak parah tentu akan menghambat proses evakuasi," kata Kadir.
Di bagian bawah jalur tersebut sudah mulai ada perbaikan dengan menambal lubang-lubang jalan. "Mudah-mudahan perbaikan itu segera selesai sampai atas sehingga jika diperlukan untuk evakuasi bisa berjalan lancar," imbuhnya. (mei/mad)











































