Di hadapan sekitar 100 pengurus NU se-Jateng, Ketum PKB ini mengaku siap membenahi sistem dan merancang program-program agar lulusan pesantren dan sekolah informal bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya. Program-program itu antara lain, pelatihan berbasis dunia kerja.
"Program link and match ini dimaksudkan agar semua kalangan mendapat kesempatan yang sama," katanya di PWNU Jateng, Jl. Dr Cipto, Semarang, Minggu (24/10/2010).
Sebagai lulusan pesantren, Muhaimin mengaku tahu betul yang dihadapi lulusan pesantren. Ia merasa tersindir saat ada orang yang bertanya soal profesi yang mungkin disandang bagi lulusan pesantren.
"Ya saya jawab, minimal (lulusan pesantren) yang jadi mantan caleg," katanya disambut tawa peserta dialog.
Cak Imin, demikian Muhaimin biasa dipanggil, sejatinya lulusan pesantren punya banyak kemampuan. Pasalnya, di lingkungan pesantren, mereka dilatih mandiri, beradaptasi, dan memberdayakan masyarakat.
"Pendeknya, ya dilatih melarat. Pas keluar atau lulus, mereka siap dengan kondisi apa pun," katanya yang lagi-lagi disambut senyum oleh peserta.
Namun, lanjut Cak Imin, pesantren diakui kurang memberikan dasar keahlian khusus. Untuk itulah, pemerintah melalui kemenakertrans merancang program pelatihan berbasis dunia kerja. Program ini akan kian lapang, karena saat ini kemenakertrans diberi 'jatah' menggunakan dana pendidikan.
"Kita mendapat bagian dari 20 persen dana pendidikan. Tentu, harus bekerja sama dengan kementerian yang lain," jelasnya.
Muhaimin datang dengan didampingi Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding dan beberapa anggota DPR dari PKB. Selain NU, acara juga dihadiri sejumlah pengurus PKB, baik wilayah maupun cabang.
(try/nrl)











































