"Saya mengucapkan selamat dan turut bersyukur. Tanamilah tanah dengan tanaman yang bermanfaat. Jangan jual tanah yang ibu bapak dapatkan dan jagalah tanah untuk generasi mendatang," demikian isi pesan tertulis Presiden SBY yang dibacakan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Joyo Winoto.
Hal itu disampaikan Joyo dalam acara syukuran redistribusi lahan dalam rangka reforma agraria di lapangan Desa Kutasari, Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (23/10/2010). Acara syukuran yang diisi pagelaran wayang kulit ini juga dihadiri Wakil Bupati Cilacap Tato Pamuji dan anggota DPR dari dapil setempat, Budiman Sudjatmiko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam surat yang tertera tanda tangannya itu, Presiden mengatakan, program redistribusi ini dimaksudkan agar status kepemilikan tanah petani menjadi pasti, sehingga petani dapat dengan nyaman mengelolanya. Ia mengatakan tanah merupakan alat penyatu Negara Kesatuan Republik Indonesia dan digunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
"Kita ingin petani di seluruh tanah air menjadi tuan di negerinya sendiri," kata SBY seperti diucapkan Joyo.
Sebelumnya, dalam penyerahan sertifikat tanah secara simbollik kepada 10 petani Cilacap di Istana Bogor 21 Oktober lalu, Presiden merasa terharu. Bahkan ketika menyampaikan pidato sambutannya, SBY masih terharu. Di bagian awal sambutan, suaranya tersendat dan kedua matanya terlihat memerah.
"Rakyat harus menjadi tuan tanah yang memiliki tanah dan air yang terkandung di dalamnya. Kalau tanah kita distribusikan dan gunakan secara tepat, maka keadilan niscaya rakyat rasakan," kata SBY seraya meminta maaf karena suaranya tersendat akibat rasa haru.
Saat itu Joyo mengatakan, secara nasional, luas total tanah milik negara yang hak kepemilikannya diserahkan kepada para petani mencapai 142.159 hektar. Proyek ini serempak berlangsung di 389 desa di 21 propinsi.
(lrn/irw)











































