Entah apa alasan pemilik toko atau restoran tersebut. Namun menurut pemandu kami di Tokyo, Jepang, karyawan yang telah berusia lanjut digaji lebih murah jika dibandingkan yang masih muda.
"Biar gajinya bisa lebih murah," kata pemandu kami saat berada di Tokyo, Jepang, beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat jam makan siang, restoran itu selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan karena tempatnya yang sempit, para pembeli harus mengantre di depan pintu restoran, menunggu pembeli yang sedang makan selesai. Restoran itu hanya muat sekitar 8 orang saja.
Begitu masuk melalui pintu gesernya, seorang pelayan yang sudah pantas disebut nenek langsung menyapa ramah. "Selamat datang," katanya dalam Bahasa Jepang. Kami hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya.
Nenek itu ternyata tidak sendirian. Di belakangnya masih ada seorang pelayan lagi yang juga sudah berusia lanjut. Kemudian di dapur, tampak laki-laki yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk pembeli. Dia juga sudah berusia lanjut.
Meski ketiganya sudah tidak muda lagi, namun mereka masih sangat bersemangat. Ketiganya sangat gesit saat melayani pembeli. Sama sekali tidak terlihat lelah atau kesulitan berjalan. Padahal, selama bekerja, mereka tidak pernah duduk-duduk.
Masih tersenyum, pelayan itu lantas menunjuk sebuah mesin yang ternyata menu di restoran itu. Untuk membeli makanan, pembeli harus memasukkan sejumlah uang ke dalam mesin, kemudian memilih menu yang diinginkan.
Setelah kita menentukan makanan dan minuman yang diinginkan, mesin itu akan mengeluarkan semacam tiket yang berisi pesanan kita. Tiket itu yang kita serahkan kepada pelayan. Dan tak lama, makanan serba panas tiba di meja. Praktis!
Karyawan yang sudah masuk usia lanjut juga bisa ditemui di Bandara Narita. Saat check in di salah satu maskapai, kami melihat seseorang yang berusia sekitar 60 tahun bekerja di bagian bagasi.
Kakek yang masih bersemangat itu terlihat kuat saat mengangkat kopor-kopor milik para penumpang pesawat. Dia juga tidak terlihat kelelahan.
Lansia yang masih aktif bekerja memang banyak dijumpai di Jepang. Konon, hal itu karena semakin menipisnya angkatan muda di Jepang.
(ken/vit)











































