Hal tersebut membuat proses pengamatan menjadi terbatas. Petugas di semua pos pengamatan lebih mengandalkan pengamatan menggunakan beberapa alat yang telah terpasang.
"Ada kecenderungan meningkat tapi pengamatan visual tertutup kabut tebal sehingga tidak sempurna. Bila kondisi seperti ini kami lebih mengutamakan penggunaan alat," ungkap petugas Pos Pengamatan Kaliurang, Sleman, Heru Suparwoko, Jumat (22/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, intensitas gempa multi phase (MP) masih tergolong tinggi. Gerakan magma di perut bumi juga sudah mulai mengarah ke permukaan. Gempa dan guguran tetap tercatat, tapi tidak diketahui arahnya.
"Karena mendung dan sempat hujan, guguran tidak bisa diamati dan tidak diketahui arah dan jaraknya," katanya.
Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) dalam laporan harian mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan aktivitas penambangan pasir di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Peringatan ini dikeluarkan untuk menghindari
adanya kejadian yang dapat mengancam jiwa.
Status Gunung Merapi ditetapkan naik menjadi siaga sejak pukul 18.00 WIB, Kamis (21/10/2010). Hal ini disebabkan adanya peningkatan signifikan aktivitas gunung tersebut yang bisa mengarah ke erupsi.
(djo/djo)











































