"Kritik Kapolda itu wajar dan sah-sah saja. Petugas lapangan itu seperti polantas memang harus punya postur tubuh yang ideal. Kalau terlalu subur bergeraknya juga lamban," kata penasihat Kapolri Bachtiar Aly saat dihubungi detikcom, Jumat (22/10/2010).
Menurut Bachtiar, sistem penempatan oleh personalia Polri juga harus benar. Personalialah yang harus mengevaluasi penempatan anggota baik secara jasmani maupun rohaninya. Kritik Kapolda Metro pun dinilai sebagai introspeksi diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bachtiar mengatakan, jika polantas memiliki tubuh yang tambun juga tidak enak dipandang masyarakat. Polantas bertubuh ideal lebih enak dilihat, lebih sigap, dan lebih menarik.
"Polantas kan etalase. Kalau gendut-gendut juga nggak cocok. Penampilannya harus menarik. Saya dukung usul Kapolda soal polantas itu," ungkapnya.
Meski menilai wajar kritik Kapolda, fasilitas olahraga untuk anggota juga harus ditingkatkan di Polda-Polda seperti adanya fasilitas fitness centre dan lapangan untuk berolahraga.
"Fasilitas semacam ini juga harus dipikirkan. Diimbangi juga fasilitas yang memadai untuk anggota-anggota berolahraga seperti fitness centre, lapangan untuk lari, dan lainnya," jelasnya.
Sebelumnya Sutarman dalam sambutan acara Penerimaan Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001: 2008 di Gedung Tifa Kencana pada Kamis kemarin mengkritik polantas. "Saya berpesan kepada anggota lalu lintas yang jalannya sudah berat di jalan, lari-lari, di situ (Mapolda Metro) ada fitnes," kata Kapolda.
Namun berbeda dengan Polwan. Polwan yang bertubuh tambun justru lebih bermanfaat dalam menangani unjuk rasa.
(gus/nrl)










































