Adalah Helene Potjewyd, seorang bangsawan kulit putih dari Austria, yang selama bertahun-tahun lamanya memburu benda benda seni khas Bali dan kemudian mendonasikannya kepada Museum Ethnology, Austria pada tahun 1946. Baru berselang 64 tahun kemudian, sebuah katalog lengkap berisi koleksi Helene akhirnya dipublikasikan atas inisiatif Dubes RI, I Gusti Agung Wesaka Puja. Buku tersebut seakan merangkai kembali serpihan serpihan artefak warisan budaya Bali yang tersebar di Austria. Bukan hanya melalui buku, pementasan tari dan kesenian gamelan khas Bali pada malam itu juga ikut menghadirkan nuansa Bali ditengah musim gugur di Wina.
Menurut Puja, Indonesia sangat mengapresiasi inspirasi seorang Helene Potjewyd yang mendedikasikan hidupnya untuk menghargai karya-karya oriental budaya Bali. Meski tak banyak orang seperti Helene, eksotika budaya Indonesia pasti tersimpan dalam setiap memori banyak orang yang pernah mengunjungi Indonesia, demikian kata Puja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pentas budaya malam itu, tak pelak menjadi ajang Special Tribute untuk Helena, Kraus dan Spies. Tiga tarian Bali klasik: Panji Semirang, Rejang Dewa, dan Oleg Tambulilingan menunjukkan arti mendalamnya penghargaan tersebut bagi ketiga warga Austria itu.
Direktur Museum Etnologi, Austria, Dr.Christian F.Feest dalam sambutannya mengungkapkan, pagelaran pentas budaya malam itu menjadi flashback atas penelusuran sejarah benda-benda seni dan budaya Bali di Austria.
Acara pentas malam budaya Bali tersebut ditutup dengan pembagian buku Balinese Art in Transition kepada setiap pengunjung yang memadati hall Museum Fur Volker Kunde, Wina, Austria serta jamuan santap malam makanan khas Bali. Acara “A Night in Bali“ benar-benar telah mengantar kemegahan pesona budaya Bali pada masyarakat Austria.
(mpr/mpr)











































