Seruan ini disampaikannya ketika membuka rapat kabinet paripurna yang pertama pasca setahun pertama Kabinet Indonesia Bersatu II. Rapat digelar di Istana Bogor, Kamis (21/10/2010).
"Saya berharap semangat ini ada di DPR. Agar tidak semudah itu menaikkan defisit anggaran yang akhirnya berkaitan dengan utang baru. Tapi tingkatkanlah penerimaan negara," kata SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Optimalisasi dan efisiensi anggaran negara, memang merupakan agenda rapat siang ini. Presiden menyatakan telah bersepakat dengan BPK untuk melakukan audit terhadap penerimaan negara, baik yang berasal dari pajak dan bukan pajak.
"Agar bisa diketahui berapa nilai yang sebenarnya pendapatan negara dan apa saja optimalisasi yang dapat kita lakukan untuk mengurangi utang serta meningkatkan pendapatan," sambung SBY.
Khusus untuk efisiensi anggaran tiap lembaga, pemerintah pusat, dan daerah, Sekretariat Negara sudah membuat hitungannya. Hasilnya, paling tidak bisa menghemat Rp 60 triliun setiap tahunnya.
Salah satu cara praktis efisiensi, yaitu dengan ketidakharusan lembaga negara mengadakan pertemuan, pelatihan atau acara lainnya di hotel mewah. Termasuk meninjau ulang fasilitas bagi pejabat di daerah yang dianggap berlebihan dan biaya perjalan dinas mereka.
"Kalau kita optimalkan anggaran kita, maka Rp 60 triliun bisa digunakan menutup kebutuhan negara yang masih dibiayai utang. Pengadaan alutsista misalnya, memakai kredit eksport yang artinya juga utang," papar SBY.
Khusus untuk anggaran kepresidenan, menurut SBY, sejak 2005 tiap tahun dana sebesar Rp 50 miliar hingga Rp 80 miliar dikembalikan ke kas negara. Itu adalah hasil penghematan aneka pos anggaran pengeluaran rutin Rumah Tangga Kepresidenan dan biaya perjalanan dinas.
"Menurut assessment Setneg, masih bisa dihemat hingga Rp 200 miliar untuk anggaran kepresidenan 2011," imbuh SBY.
(lh/lrn)










































