"Luka tembak yang diterima oleh Farel merupakan luka tembak tidak langsung. Itu luka tembak pantulan, peluru masuk dari arah bawah ke tungkai bawahnya," kata dokter forensik RSCM, dr Mun'im Idris dalam jumpa pers di RSCM, Jl Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (21/10/2010).
Menurut Mun'im, tim dokter juga sudah melakukan pembedahan dan mengeluarkan benda logam yang bersarang di tungkai kaki Farel. Saat di-rontgent ada benda asing di tulang Farel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mun'im mengaku kalau dirinya sebenarnya mengetahui peluru kaliber berapa yang berada di kaki Farel. Namun Mun'im enggan menjelaskannya.
"Tapi ini bukan konsumsi pers," cetusnya.
Sementara itu, dokter yang menangani Farel, dr Syaiful mengatakan, kondisi Farel saat ini sudah normal. Farel tidak mengalami luka permanen.
"Ini hanya luka sementara. Akan kembali ke semula kondisinya," jelasnya.
Pada Rabu (20/10/2010) kemarin, mahasiswa UBK dan mahasiswa dari universitas lainnya berunjuk rasa di Jl Diponegoro dengan cara menutup jalan. Polisi sudah berupaya meminta mahasiswa agar membuka jalan. Namun mahasiswa marah dan terjadi aksi dorong mendorong dengan polisi. Seorang mahasiswa pun diamankan.
Melihat temannya ditangkap, mahasiswa lainnya pun mengamuk dan melempari polisi dengan batu. Polisi sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Namun semakin banyak mahasiswa yang melempar batu. Polisi mengejar mereka dan mahasiswa mundur ke Jl Kimia.
Saat itulah, kaki Farel berdarah. Farel pun dilarikan ke RSCM. Farel lalu menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di kakinya dan visum. Hasil visum menunjukkan kalau Farel memang ditembak. Farel ditembak dengan senjata revolver. Namun kaliber berapa masih belum diketahui.
(gus/fay)











































