Demikian hasil riset yang dirilis Reporters Without Borders (RSF) dalam situsnya www.rsf.org, Rabu (20/10/2010). Riset dilakukan berdasarkan pelanggaran kebebasan pers di 178 negara dari 1 September 2009 sampai 1 September 2010.
"Juga di Asia Tenggara, Indonesia (117) tidak bisa lewat di bawah halangan simbolis yang memisahkannya dengan negara-negara top 100, meski terjadi perkembangan media yang luar biasa," demikian pernyataan RSF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Utamanya mereka yang menulis tentang lingkungan," tulis organisasi yang menjadi konsultan PBB ini.
Negara Asia Tenggara yang indeks kebebasan persnya lebih tinggi yakni, Timor Lestes (93). Sementara yang masih di bawah Indonesia, yakni Kamboja (128), Singapura (136), Malaysia (141), Brunei (142), Thailand (153), Filipina (156), Vietnam (165), Laos (168).
Dalam catatan detikcom, dua jurnalis yang tewas tersebut adalah Ridwan Salamun (kontributor Sun TV) dan Ardiansyah (wartawan TV lokal Merauke). Ridwan tewas dikeroyok saat meliput bentrokan massa di Tual Maluku, sementara Ardiansyah ditemukan tewas di sungai Gudang Arang, Merauke.
Kasus pelemparan bom molotov di kantor Majalah Tempo Juli lalu juga belum terungkap hingga kini. Polisi belum berhasil menangkap pelaku.
(lrn/nrl)











































