"Selain ancaman soliditas koalisi dan performa buruk sejumlah menteri, setahun kabinet juga ditandai dengan dilema politik yang menghantui sisa masa jabatan kabinet," ujar Pengamat Politik Charta Politika Arya Fernandes kepada detikcom, Rabu(20/10/2010) malam.
Menurut Arya, beberapa di antara dilema politik SBY itu adalah, pertama, dilema institusional. Ketergantungan Partai Demokrat pada figur SBY membuat SBY terlibat aktif dalam konsolidasi partai menjelang Pemilu 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arya mengkhawatirkan akan terjadinya kutukan periode kedua bagi KIB bila pada periode kedua, SBY masih terjebak pencitraan politik, tak berani mengambil risiko atau tak melakukan terobosan politik yang berarti.
"Kutukan periode kedua ditandai dengan meningkatnya frustrasi politik pada Presiden yang terpilih kembali pada periode kedua. Frustasi itu dipengaruhi oleh turunnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Hal itu sudah mulai tampak dengan adanya kecenderungan menurunnya prestasi pemerintah," kata Arya.
Arya mencontohkan, di Amerika Serikat, beberapa presiden, pernah mendapatkan kutukan periode kedua. Misalnya, skandal Bill Clinton dengan Monica Lewinsky membuat Clinton hampir tersungkur. Juga terjadi pada Ronald Reagan melalui skandal Iran-kontra dan Lyndon B Johnson melalui skandal Perang Vietnam.
"Idealnya, di periode kedua, fokus pemerintahan SBY hendaknya berorientasi pada kebijakan. Sementara, untuk melakukan konsolidasi politik di Partai Demokrat, SBY dapat memberi kepercayaan penuh kepada Anas Urbaningrum," kata Arya.
(mpr/anw)











































