Waktu telah menunjukan pukul 18.15 WIB, sedangkan aturan polisi bahwa setiap aksi harus bubar pukul 18.00 WIB. Proses negosiasi berjalan alot.
"Kami meminta polisi mengakui telah menembak teman kami. Baru kami akan bubar," kata negosiator mahasiswa, Adi, Rabu (20/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami minta maaf atas insiden tersebut. Tapi untuk meminta pertanggungjawaban siapa yang menembak, itu harus dibawa ke Propam untuk ditindak sesuai aturan," kata dia.
"Karena ini sudah malam, mohon mahasiswa membubarkan diri karena jalan akan dipakai masyarakat," imbuh dia.
Meski polisi sudah meminta maaf. Mahasiswa masih bersikukuh menduduki jalan. Menurut mereka, jelas-jelas tertangkap kamera kalau polisi yang menembak.
"Jika tidak ada jaminan penembak itu diusut, kami akan tetap bertahan," kata mahasiswa dengan ngotot.
Negosiasi pun mandek. Polisi dan mahasiwa bersiaga di tempat masing-masing. Mahasiswa terus membakar ban dan menyanyikan lagu perjuangan. Sedangkan, polisi bertahan di depan Bioskop Megaria.
Aksi mahasiswa itu semakin memacetkan jalan petang hari ini. Jalan Proklamasi yang biasanya satu arah menuju Cikini, kini dipaksa dua arah. Tujuannya untuk mencairkan penumpukan kendaraan yang ke arah Matraman. Pengalihan arus lalu lintas juga dilakukan sehingga kawasan Menteng dan Manggarai padat merayap.
(asp/fay)











































