"Dari Indonesia bisa diamati pada 20 Oktober subuh, dan saya rasa tanggal 21 juga masih bisa. Namun problemnya, selain sangat redup, juga ada gangguan dari cahaya bulan yang masih cukup kuat," kata pengamat matahari dan antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin kepada detikcom, Rabu (20/10/2010).
Karena berada pada magnitudo 5, yakni dalam ambang batas mata telanjang bisa melihat, maka komet ini bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi bila tidak menggunakan bantuan eyepiece teleskop dan binokular yang luas medan pandangnya, maka penampakan komet tersebut tidak bisa dibedakan dengan bintang. Karena mata telanjang tidak mampu melihat ekor dan koma (kepala komet).
"Kalau bintang itu terangnya tegas. Sedangkan kalau komet ada cahaya baur di sekitarnya Itu bisa dilihat dengan binokuler. Perpindahannya sangat lambat jadi cukup sulit dilihat pergerakannya kalau dilihat dengan mata telanjang. Kalau pakai binokuler akan terlihat jejak menggoresnya," sambung Djamaluddin.
Dia menjelaskan, jarak terjauh orbit komet dari dari matahari sekitar 5,87 SA, sedangkan jarak terdekat terhadap matahari adalah 1,05 SA. Komet berada pada titik terdekat dengan yakni pada 28 oktober 2010. Komet ini saat melintasi matahari jaraknya dekat dengan bumi, dan pada 20 Oktober ini, jarak terdekatnya sekitar 0,12 SA atau sekitar 18 juta kilometer dari Bumi.
Komet ini bisa dilihat di langit utara, di dekat rasi bintang Auriga. Nah, Auriga sendiri letaknya di dekat bintang tujuh versi Indonesia (bukan seven stars) atau rasi Pleiades yang relatif mudah dikenali.
Hartley 2 termasuk komet periodik yang ditemukan 15 Maret 1986 oleh Hartley. Komet ini memiliki periode sekitar 6,5 tahun. Terakhir kali komet ini mendekati Matahari adalah pada Mei 2004. Komet biasanya tampak pada saat mendekati Matahari, karena ketika jauh tidak terjadi penguapan komposisi es dan debu.
"Ini tergolong komet kecil. Diperkirakan radiusnya hanya sekitar 0,6 km," terang Djamaluddin.
Doktor dari Universitas Kyoto, Jepang, ini menyatakan, orbit komet ini dekat dengan planet Jupiter. Periode orbitnya sangat mungkin berkurang atau bergeser karena efek gravitasi Jupiter atau planet lainnya.
Meskipun sedang dalam titik terdekat dengan Bumi, namun komet ini tidak akan berbahaya bagi Bumi. "Jauhnya kan sekitar 18 juta kilometer dari Bumi, jadi tidak akan ada dampak apa pun. 13 Tahun sekali komet ini akan mendekati Bumi," jelas Djamaluddin.
(vit/nrl)











































