"Itu pasti, enggak mungkin enggak disambut di atas. Ada makna politis," kata Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/10/2010).
Dia menilai, seharusnya presiden tidak perlu malu-malu mengungkapkan rencana ini. Bagaimanapun, lanjut Fahri, Soeharto telah memberikan pengaruh bagi bangsa Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
peristiwa ini. Pak Harto sudah mempengaruhi bangsa ini 32 tahun. Karena itu yang mengusulkan
pahlawan, jangan direduksi hanya pada warga Jateng saja," terang Fahri.
Dia menegaskan, ada kepentingan nasional di balik wacana Soeharto menjadi pahlawan. Namun kini yang perlu dilakukan dahulu yakni rekonsiliasi. "Jangan lagi mengingat luka lama, sudah selesai," tuturnya.
Anggota Komisi III ini juga menyatakan, bagaimanapun Soeharto adalah orang yang hadir membantu menyelamatkan bangsa dari kehancuran.
"Kalau soal kroni-kroninya silakan diusut. Ambil hartanya atau rampas saja. Soeharto beda dengan kroni-kroninya," tutupnya.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengatakan pemerintah sudah menyaring 10 nama calon pahlawan nasional. Mereka adalah Ali Sadikin dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulteng, HM Soeharto dari Jawa Tengah, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari Jawa Timur.
Selanjutnya Andi Depu dari Sulawesi Barat, Johanes Leimena dari Maluku, Abraham Dimara dari Papua, Andi Makkasau dari Sulawesi Selatan, Pakubuwono X dari Jawa Tengah, dan Sanusi dari Jawa Barat.
Nama-nama ini sekarang akan dibawa ke Dewan Gelar, Tanda Kehormatan, dan Tanda Jasa yang dipimpin Menkopolhukam. Di dewan ini, nama-nama itu akan diseleksi lebih jauh dengan berbagai kriteria.
Ingin diskusikan soal gelar pahlawan Soeharto, ikuti pro dan kontra!
(ndr/fay)










































