Hal itu tersirat dalam kuliah umum yang disampaikan Prof. Dr. Sidek Baba dalam acara Silaturahmi Akbar Masyarakat Indonesia dan Pagelaran Seni Nusantara di Aula Hasanuddin, KBRI Kuala Lumpur, Sabtu (16/10/2010).
"Meskipun Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan budaya, namun mereka mampu hidup secara damai dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa," ungkap Sidek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia, tambah Sidek, diibaratkan negara Andalusia di masa lalu yang masyarakatnya banyak yang menguasai berbagai bahasa namun tetap menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utama sehari-hari.
"Kebanggaan terhadap bahasa sendiri tak seharusnya menghilangkan semangat untuk belajar bahasa lain," ungkap guru besar IIUM yang punya keturunan Bugis ini.
Sementara itu, Atase Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Kuala Lumpur, Widiyarka Riyananta mengharapkan acara yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia kerjasama organisasi masyarakat Indonesia ini bisa menjadi perekat bagi semua komponen anak bangsa di negeri jiran.
“Dengan jumlah jutaan masyarakat Indonesia di sini mari kita buktikan bahwa kita bisa menjadi duta bangsa di negeri rantau. Tugas andalah untuk
menjelaskan ini kepada saudara-saudara kita di Indonesia,” pungkasnya.
Selain PPI se-Malaysia, acara ini juga dihadiri beberapa organisasi masyarakat Indonesia di Malaysia, seperti Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di Malaysia (PCIM), Tanoh Rincong Students Association (TARSA), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU), Perhimpunan Masyarakat Indonesia (PERMAI), Islamic Economic Forum for Indonesia Development (ISEFID), Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan (PPSS), Forum Tarbiyah (FoTar), Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM), Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM), Ikatan Pelajar Alumni Malaysia Asal Sumatera Utara (IPAMSU), dan Forum Obrolan Seputar Situasi Indonesia (ObSeSI).
(rmd/mad)











































