Ical: Masa 'Puber Politik' yang Penuh Kegenitan Sudah Lewat

Ical: Masa 'Puber Politik' yang Penuh Kegenitan Sudah Lewat

- detikNews
Sabtu, 16 Okt 2010 20:17 WIB
Ical: Masa Puber Politik yang Penuh Kegenitan Sudah Lewat
Jakarta - Perdebatan politik dewasa ini haruslah lebih menekankan kepada hal-hal yang substantif dan konseptual. Masyarakat harus keluar dari model-model perdebatan di masa transisi yang biasanya lebih diorientasikan untuk menunjukkan eksistensi diri dan kelompok.

Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie membuka Seminar Nasional di kantor DPP Partai Golkar, Jl Anggrek Nely Murni, Slipi, Jakbar, Sabtu (16/10/2010).

"Masa-masa 'puber politik' yang penuh dengan sensasi dan kegenitan itu sudah lewat. Kita harus lebih dewasa dalam berpolitik dan memiliki komitmen untuk membangun tradisi politik yang lebih bermanfaat," kata Aburizal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ical, sapaan akrabnya, mengatakan, masyarakat sudah semakin cerdas, pers sudah semakin terbuka, kaum cendikia pun semakin banyak dan kritis.

"Jika hari ini masih saja berdebat untuk sekedar mencari perhatian, maka seperti iklan Ditjen Pajak, 'Apa Kata Dunia?'" kata Ical.

Menurutnya, setelah 12 tahun pintu masuk demokrasi, yakni reformasi, mulai dibuka, bangsa Indonesia sepertinya hanya berjalan-jalan dan berputar-putar di ambang pintu saja. Belum beranjak pada bagian yang lebih dalam, lebih mendasar, lebih substantif dan lebih penting.

"Bahkan beberapa pihak malah mencoba mengajak mundur atau keluar kembali," kata dia.

"Kita masih berdebat di depan pintu tentang hal-hal yang kurang substansial, seperti: apa warna cat pintu, berapa ukuran pintu seharusnya, apa gantungan kuncinya, siapa yang boleh masuk lebih dulu, dan sebagainya," kata Ical berumpama.

Ical berharap, perdebatan konseptual itu terjadi dalam setiap proses pembahasan rancangan undang-undang di DPR. Adu argumentasi sebaiknya didasarkan pada semangat nasionalisme dan jati diri bangsa, bukan intrik politik.

"Kita semua tahu bahwa intrik politik tidak akan pernah membawa kita pada rumusan kebijakan yang ideal. Bahkan sebaliknya, intrik politik, disamping hanya akan membuang energi, juga akan berpotensi memperlemah kesatuan dan persatuan bangsa," kata Ical.

(lrn/mad)


Berita Terkait