Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie membuka Seminar Nasional di kantor DPP Partai Golkar, Jl Anggrek Nely Murni, Slipi, Jakbar, Sabtu (16/10/2010).
"Masa-masa 'puber politik' yang penuh dengan sensasi dan kegenitan itu sudah lewat. Kita harus lebih dewasa dalam berpolitik dan memiliki komitmen untuk membangun tradisi politik yang lebih bermanfaat," kata Aburizal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika hari ini masih saja berdebat untuk sekedar mencari perhatian, maka seperti iklan Ditjen Pajak, 'Apa Kata Dunia?'" kata Ical.
Menurutnya, setelah 12 tahun pintu masuk demokrasi, yakni reformasi, mulai dibuka, bangsa Indonesia sepertinya hanya berjalan-jalan dan berputar-putar di ambang pintu saja. Belum beranjak pada bagian yang lebih dalam, lebih mendasar, lebih substantif dan lebih penting.
"Bahkan beberapa pihak malah mencoba mengajak mundur atau keluar kembali," kata dia.
"Kita masih berdebat di depan pintu tentang hal-hal yang kurang substansial, seperti: apa warna cat pintu, berapa ukuran pintu seharusnya, apa gantungan kuncinya, siapa yang boleh masuk lebih dulu, dan sebagainya," kata Ical berumpama.
Ical berharap, perdebatan konseptual itu terjadi dalam setiap proses pembahasan rancangan undang-undang di DPR. Adu argumentasi sebaiknya didasarkan pada semangat nasionalisme dan jati diri bangsa, bukan intrik politik.
"Kita semua tahu bahwa intrik politik tidak akan pernah membawa kita pada rumusan kebijakan yang ideal. Bahkan sebaliknya, intrik politik, disamping hanya akan membuang energi, juga akan berpotensi memperlemah kesatuan dan persatuan bangsa," kata Ical.
(lrn/mad)











































