"Saya pribadi melihat ada nafsu politik yang terlalu terburu-buru diumbar, dan ini malah bisa menjadi blunder buat Partai Golkar dalam Pileg 2014 sendiri," ujar Direktur Riset Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya kepada detikcom, Jumat (15/10/2010).
Setidaknya ada 4 hal yang menjadi dasar Yunarto mengemukakan prediksi politiknya tersebut. Pertama, Golkar adalah partai yang terbangun bukan karena kekuatan elektoral seorang tokoh. Kekuatan elektoral Golkar terbentuk oleh karena infrastruktur yang dimiliki sampai ke level terkecil secara geografis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, lanjut Yunarto, Ical sendiri saat ini masih menjadi sosok yang terkait dengan banyak isu kontroversial. Kasus Lumpur Lapindo, pajak, dan perseteruannya dengan mantan Menkeu Sri Mulyani masih melekat dengan sosoknya. Pencapresan dini Ical dalam situasi seperti ini bisa jadi malah akan menyeret citra Golkar ke dalam kasus-kasus kontroversial tersebut.
Ketiga, Golkar sendiri masih memiliki masalah "faksionalisme" sebagai buah dari hasil Munas Riau tahun lalu. Proses konsolidasi masih terus berlangsung dalam tubuh internal Golkar. Pengurus golkar dan juga anggota parlemen tidak semuanya berada di bawah kekuasaan Ical secara "de facto".
"Pencalonan terhadap Ical secara dini berpotensi mengeleminir proses konsolidasi dan berujung pada perpecahan secara internal," ungkap Yunarto.
Terakhir, keempat, ia berpendapat munculnya Ical sebagai capres sejak sekarang akan menimbulkan reaksi politik dari sesama koalisi pendukung SBY. Keberadaan konglomerat itu sebagai ketua harian setgab tentu saja akan disikapi secara lebih berhati-hati oleh partai lainnya.
Partai yang paling sulit untuk menerima kenyataan bahwa ketua setgab berambisi menggantikan SBY pada 2014 itu tentu saja Partai Demokrat dan pendukung SBY. Dalam kondisi demikian, bukan tidak mungkin posisi Golkar malah akan semakin terpinggir.
"Sebagai kesimpulan, saya merasa lebih baik Golkar tidak terlalu terburu-buru masuk ke dalam pertarungan menuju 2014. Jangan sampai partai besar ini malah menjadi kerdil oleh karena 'nafsu besar' yang tidak diperhitungkan secara matang," tutup Yunarto.
(irw/irw)











































