Demikian ujar Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM, Zainal Arifin Muchtar, menanggapi gagalnya KPK memeriksa istri politisi PKS, Adang Daradjatun itu. Dia ditemui usai diskusi di Kantor KoNTRAS, Jl Borobudur, Jakarta, Jumat (14/10/2010).
"Yang diperlukan adalah lompatan dari KPK. Kirim tim kesehatan untuk memeriksa langsung kesehatan Nunun dan menjemputnya," ujar Zainal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi aneh demikian tentu saja menjadi bahan perhatian masyarakat luas. Meski sebenarnya kesulitan KPK mengusut skandal yang terjadi hampir sepuluh tahun silam, di samping status hukum dalam kasus yang Nunun sendiri masih sebagai saksi sehingga tidak memungkinkan dilakukan penjemputan secara paksa.
"Tapi kalau menunggu terus, ya sulit. Masyarakat pertanyakan mengapa kok ini terlalu lama sekali," sambung Zainal.
Nunun urung menjalani pemeriksaan di KPK yang dijadwalkan pada pukul 10.00 WIB, Jumat (14/10). Kondisi kesehatannya yang belum juga membaik dari 'sakit lupa akut', lagi-lagi dijadikan alasan untuk mangkir dari kewajiban tersebut.
Berdasar keterangan sejumlah tersangka, disebutkan Nunun membagi-bagikan cek perjalanan kepada politisi PDIP pasca terpilihnya Miranda Goeltom selaku anggota Dewan Gubernur Senior Bank Indonesia. Pengakuan ini yang memunculkan dugaan bahwa Nunun tahu benar siapa yang memberi suap dan siapa pula yang penyandang dananya.
(lh/vit)











































