Naik Haji agar Panjang Umur

Laporan dari Arab Saudi

Naik Haji agar Panjang Umur

- detikNews
Jumat, 15 Okt 2010 14:40 WIB
Madinah - Impian setiap muslim untuk berkunjung ke Kabah yang agung. Di Masjidil Haram inilah berada multazam, tempat mustajab (doa-doa dikabulkan). Dan Effendi Hasibuan meski sudah lanjut usia, tetap sabar memendam asa untuk naik haji agar bisa melihat Kabah dengan mata kepalanya sendiri.

Effendi menabung bertahun-tahun untuk bisa bersama istrinya menunaikan rukun Islam yang kelima, naik haji bila mampu. Sepanjang usianya yang mencapai 68 tahun, pria asal Labuhan Batu Medan ini belum pernah pergi ke man apun. Tempat terjauh yang pernah didatanginya baru Medan. Meski demikian ia tidak takut ke Arab yang jauh dari tanah air demi berdoa di Kabah.

"Saya ingin berdoa di Kabah agar saya panjang umur. Bila panjang umur saya bisa beramal lebih banyak," kata Effendi saat ditemui detikcom dan NU Online, di pinggir jalan King Fath, Madinah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bapak 6 anak dan kakek dari 12 cucu ini seorang pensiunan guru. Sang istri berdagang di rumah. Ia menabung untuk haji dari uang pensiunan dan hasil pertaniannya dari perkebunan sawit. "Alhamdulillah setelah lima tahun menabung akhirnya sampai sini. Tadi sudah salat zuhur di Masjid Nabawi," cerita Effendi.

Effendi datang ke Masjid Nabawi bersama seorang temannya saat hari pertama tiba di Madinah. Di masjid tempat Nabi Muhammad berkutbah dan bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk mensiarkan Islam inilah, Effendi ingin melakukan Arbain, yaitu melakukan salat wajib lima waktu yang dikerjakan selama 8 hari berturut-turut dengan berjamaah.

"Katanya kalau kita Arbain kita terhindar dari neraka dan pahalanya seribu kali lebih baik dibanding salat di masjid lainnya," cerita Effendi.

Namun karena baru hari pertama tiba, Effendi pun bingung setelah keluar dariย  Masjid Nabawi. Terlebih ia terpisah dari sang teman. Effendi terus berjalan menuju pemondokan. Namun ia justru hanya berputar-putar di kawasan sekitar masjid. Ia lupa di mana pemondokannya berada. "Saya sudah satu jam muter-muter di jalan. Sudah lelah sekali. saya lupa jalan pulang ke arah pemondokan," kata Effendi.

Saat itu Effendi juga lupa membawa tas jamaah haji Indonesia tempat menyimpan data-data tentang dirinya. Dengan tidak adanya data tersebut, sulit untuk mengetahui secara langsung di sektor berapa Effendi menginap. Bapak ini hanya mengenakan celana batik dipadu baju putih dengan lambang bendera merah putih kecil di dadanya.

Meski agak keberatan karena sudah kelelahan, Effendi akhirnya bersedia dibujuk untuk ke kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah agar mendapatkan bantuan. Setelah meminum tiga gelas air dan mencicipi kepingan biskuit, pensiunan guru ini pun kembali bugar.

"Terimakasih ya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian," katanya terharu saat akan diantar kembali ke pemondokannya.

(iy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads