Monica datang ke Indonesia bersama kelompok tarinya, Compagnia Artemis Danza. Selama dua minggu, mereka belajar untuk menampilkan tarian dengan gerak tradisional khas Jawa Tengah yang menceritakan kisah Ramayana. Sejak 3-14 Oktober, workshop tari kontemporer, berkolaborasi dengan kelompok tari tradisional Indonesia, Swargaloka, pun digelar.
Menurut Monica, gerakan tarian Jawa sangat menarik. Ada kemiripan dengan gerakan tari dari negara Asia lainnya, yakni India. Meski demikian, buat dia, gerak tarian Jawa sangat mempesona.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sisi menarik lainnya, mata penari juga menjadi detil yang diperhatikan dalam tari-tarian Indonesia. Karena itu, meskipun kelompok tarinya mengunjungi beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina, namun Monica dkk hanya belajar menari di Indonesia.
Apa kesulitan mempelajari tarian Indonesia? "Tarian kami itu gerakannya besar, nah kalau tarian ini lebih lembut jadi tantangan sendiri. Apalagi harus menggerakkan mata, ujung kaki juga. Tapi menarik," ucap alumnus Fakultas Filsafat, Universitas Bologna, Italia, ini.
Monica merupakan penari sekaligus koreografer kawakan. Dia memulai karir koreografinya pada 1994 di Perancis, saat ia membentuk kelompok tari Artemis Danza. Tiga tahun kemudian, dia memindahkan basis Artemis ke Parma, Italia. Karya kelompok ini telah ditampilkan di berbagai teater dan festival terkemuka di Italia maupun di negara lain, seperti di Perancis, Belgia, Swiss, Albania, Kolombia, Vietnam dan Korea.
Dalam pertunjukan dengan gerakan khas tarian Jawa yang digelar semalam di Pusat Kebudayaan Italia, Monica dkk tampil mempesona. Dengan luwes mereka menarikan gerakan demi gerakan yang menceritakan 4 adegan besar cerita Ramayana.
Kelompok itu juga menampilkan tari Ramayana versi mereka. Musik dalam tarian itu diambil dari bunyi-bunyian khas suku Tuva di Tibet yang dikeluarkan dari batang tenggorokan, perkusi dari musisi Brazil, sepenggal musik Turki, secuil musik dari perkusi dan tambur khas Jepang, serta musik yang biasa didengar dalam perayaan kaum gypsi. Kesannya sangat wah dan meriah.
(vit/nrl)











































