Perusahaan katering untuk jamaah haji di Madinah dipastikan telah memenuhi kriteria yang diminta pemerintah Indonesia. Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah Subakin Abdul Muthalib mensyaratkan katering untuk jamaah harus bersih, tidak basi dan didistribusikan dengan baik.
Selain itu menu untuk jamaah juga harus memenuhi selera orang Indonesia dan variatif agar tidak membosankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koki di Al Mazroi catering semuanya adalah orang Indonesia. Sementara pekerja dari Burma yang melakukan pekerjaan memotong-motong bahan masakan dan melakukan packing makanan.
Saat ditinjau, Al Mazroi telah menyiapkan menu makan siang yang berupa nasi, sayuran oseng buncis dan wortel, ikan balado, dan lalapan. Menu juga dilengkapi buah-buahan berupa apel atau jeruk dan air mineral.
"Kami juga memberikan teh, kopi, susu dan gula untuk persediaan selama 9 hari di Madinah," jelas salah seorang pekerja katering sambil menunjukkan kemasan teh, kopi, gula dan susu tersebut.
Subakin meninjau peralatan dan perlengkapan masak yang berupa alat pemanas, pengepakan makanan dan penyimpanan bahan makanan.
"Setelah melihat gudang, beras masih cukup untuk 15 hari ke depan. Jadi tidak perlu khawatir stok katering akan kekurangan," tegas Subakin.
Juru masak katering juga telah memenuhi standar pemerintahan Arab Saudi. Kebersihan makanan dan tempat memasaknya juga sudah memenuhi syarat.
"Jangan sampai ada makanan yang busuk. Kalau sampai nanti ditemukan melanggar persyaratan ya kita ganti dengan katering lain," kata Subakin.
Untuk kebutuhan makanan jamaah haji di Madinah, pemerintah Indonesia menggandeng 10 perusahaan katering. Selain meninjau perusahaan katering Al Mazroi, Subakin juga meninjau perusahaan katering Al Hadaeri. Dua perusahaan katering ini berada di kawasan Jabal Uhud.
(iy/nwk)











































