Menkum HAM Sidak Tempat Penampungan yang Dijebol Imigran Gelap

52 Imigran Gelap Kabur

Menkum HAM Sidak Tempat Penampungan yang Dijebol Imigran Gelap

- detikNews
Rabu, 13 Okt 2010 00:28 WIB
Menkum HAM Sidak Tempat Penampungan yang Dijebol Imigran Gelap
Jakarta - Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar, melakukan inspeksi mendadak ke rumah penampungan imigran gelap Jakarta. Tindakan itu dilakukan selang satu hari usai 52 warga asing melarikan diri. Patrialis langsung mengakui petugasnya lalai sehingga warga asing bermasalah itu kabur.

"Yang kami sesalkan, kenapa petugas kami lalai. Peraturannya tidak boleh
menerima tamu sampai jam 22. Yang bersalah kita beri sanksi. Saya serahkan ke inspektorat, urutan sanksinya bagaimana," kata Patrialis saat menyidak di Rumah Imigrasi Detensi Jakarta, Jl Peta Selatan, Jakarta Barat, Selasa (12/10/2010) malam.

Menurut Patrialis, kondisi bosan dan jenuh menyebabkan para tahanan imigrasi memilih kabur. Tercatat, banyak penghuni yang mendiami rumah penampungan hingga bertahun-tahun tanpa kepastian hukum.

"Mereka sudah bosan. Sudah ada yang 6 bulan lebih. Ada yang ingin mencari kehidupan. Tapi pergi kemana juga nggak tahu. Mau kemana sih kalau kabur? Paspor saja tidak ada," ucap Patrialis yang mengenakan jaket kulit hitam.

Saat tiba di rumah penampungan itu, Patrialis langsung melihat kondisi rumah penampungan yang mirip tahanan. Imigran gelap dimasukan dalam ruangan 3x3 meter tanpa lubang ventilasi dan berteralis besi warna biru layaknya penjara.

Baju atau celana terlihat bergelantungan di ruangan. Suasananya pengap dan membuat keringat segera bercucuran akibat kepanasan.

"Saya minta ini diberi ventilasi secukupnya. Kalau tidak, panas. Keringetan. Kita tetap memperlakukan mereka manusiawi. Mereka bukan penjahat. Kita menampung mereka, karena bisa saja mereka kabur karena karena negaranya sedang perang, mendapat intimidasi, saling bunuh membunuh," ucapnya.

Saat Patrialis meninjau di lantai 2 tempat anak-anak dan perempuan ditahan, menteri itu langsung 'diserbu'. Mereka berteriak, memohon, menangis sambil membawa anak kecil yang juga ikut ditahan. Masing-masing orang berseru sehingga menimbulkan suara sangat berisik dan membuat petugas rumah penampungan itu menenangkan mereka terlebih dahulu.

"I love u, Minister. Help us. I need foods in your country," pinta seorang perempuan paruh baya yang merupakan pengungsi asal Afganistan.

Di ruangan lain, Patrialis bertemu dengan seorang pelarian asal Aljazair dan Vietnam. Si Aljazair ini mengaku sudah menghuni rumah penampungan sejak tahun 1999. Sementara Si Vietnam itu sejak 8 tahun lalu sehingga sudah fasih berbahasa Indonesia. Keduanya mempunyai permasalahan sama, yakni ingin kembali negaranya tetapi ditolak.

"Mereka umumnya mau ke Australia. Tetapi Indonesia tempat mereka lewat. Ada komitmen internasional, kalau ada pengungsi ditampung dulu. Jangan terlunta-lunta di laut internasional. Persoalannya adalah pengurusan ini terlalu lama. Dubesnya tidak merespon. Negara ketiga menolak, negaranya kembali tidak menerima," jelas Patrialis yang berjanji akan mengurus si Vietnam dan si Aljazair tersebut.

Pada Minggu (10/10/2010) pukul 01.30 WIB, dua tahanan asal Nigeria selesai menerima tamu dari pukul 22.00 WIB. Saat hendak dikembalikan ke kamarnya, kedua pria Nigeria itu mendorong 3 petugas jaga hingga terjatuh. Lalu keduanya kabur dan diikuti 50 tahanan lain. 4 Orang berhasil ditangkap sementara 48 lain masih buron.

"Memang itu sudah menyalahi aturan. Seharusnya waktu menjenguk itu hari kerja. Senin sampai Jumat 09.00-17.00 WIB. Ini memang ada kelalaian," terang Kepala Rumah Imigrasi Detensi Jakarta, Effy Novrie .

(Ari/lrn)


Berita Terkait