"Kami mencatat, 70 persen angka kecelakaan itu melibatkan sepeda motor," kata Kepala Cabang PT Jasa Raharja DKI Jakarta, Mustimar Karimi kepada wartawan di Gedung Direktorat Lalu Lintas Polda Metro di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (12/10/2010).
Sementara itu, angka kecelakaan yang melibatkan semua angkutan tercatat 1071 kasus pada 2009. Januari-September 2010, angka kecelakaan mencapai 528 kasus.
Menurutnya, angka kecelakaan di tahun ini secara kuantitas tidak mengalami peningkatan tajam. Namun, secara kualitas, kecelakaan di tahun ini sangat memprihatinkan.
"Seperti kecelakaan kereta api di Jawa Tengah yang mencapai puluhan korban jiwa," katanya.
Sementara dana santunan yang dikeluarkan PT Jasa Raharja pada tahun 2009 mencapai Rp 1,3 triliun. Sementara di tahun 2010, dana santunan yang harus dikeluarkan PT Jasa Marga diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun.
"Hingga September ini, kami sudah mengeluarkan Rp 800 miliar," ujarnya.
Melihat angka kecelakaan yang semakin meningkat itu, maka Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bekerjasama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan PT Jasa Raharja memasukkan pengetahuan tentang berlalulintas dalam kurikulum sekolah. Ini dilakukan agar pemahaman tertib berlalulintas bisa diterapkan sejak dini.
"Diharapkan dengan telah selesainya dan dicetaknya modul panduan ini kita investasikan penanaman disiplin sejak dini dan bisa membawa perubahan perilaku dalam berlalu lintas," terang Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Condro Kirono.
Condro mengatakan, untuk menumbuhkan kesadaran berlalulintas itu tidak cukup dengan penegakan hukum. Tapi mencari akar permasalahannya.
"Karena orang yang sudah punya SIM saja belum tentu paham. Dari situ kami tentunya tidak bisa sendiri, kami perlu bermitra sehingga ada sinergi," tuturnya.
Kurikulum berlalu lintas ini dimasukkan dalam kurikulum sekolah mulai dari tingkat TK-SMA. Ada 10 ribu modul yang dipersiapkan akan disebar ke 6 ribu sekolah di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Pengetahuan tentang lalu lintas itu akan diberikan secara berbeda di masing-masing tingkat sekolah. Di tingkat TK, pengetahuan tersebut akan diterapkan dari hal yang paling dasar.
"Kalau di SD kita berikan pengetahuan mulai dari yang sangat elementer. Di tingkat SMA, akan diberikan pemahaman hingga regulasi perundangan, karena anak SMA ini kan nantinya akan diuji untuk mendapatkan SIM," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Budi Mulyanto menyambut baik kerjasama itu. Karena menurutnya, pelajar merupakan pelaku lalu lintas.
Taufik mengatakan, modul pengetahuan lalu lintas akan diselipkan dalam mata pelajaran inti. "Tidak dibuat kurikulum baru. Masuk dalam kurikulum yang terintegrasi, dengan tidak menambah kurikulum," katanya.
Guru akan diberikan pelatihan lebih dulu dari Direktorat Lalu Lintas pada 5 November nanti. Modul ini akan mulai diterapkan pada semester genap pada tahun ajaran 2010.
(mei/gun)











































