"Jika tidak ingin berubah untuk lebih baik, akhirnya rakyat yang akan melakukan perubahan," kata Rizal yang selama ini dikenal kritis kepada pemerintah, saat dihubungi detikcom, Selasa (12/10/2010).
Rizal yang ikut dalam pertemuan di PP Muhammadiyah beberapa waktu lalu menjelaskan, perubahan yang akan dilakukan rakyat itu pun, tentu bukan sebagai tindakan melawan demokrasi, tetapi sebagai upaya membetulkan demokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, negara dinilainya antara ada dan tiada karena dalam banyak hal, negara bahkan gagal untuk menjamin hak-hak warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.
"Padahal hak-hak tersebut dijamin konstitusi, sebagai perbandingan, Presiden Brazil Lula dalam waktu 8 tahun berhasil membuat rakyatnya hidup sejahtera dan menjadi negara besar di dunia," tutupnya.
Sebelumnya Hatta Rajasa yang selalu membatasi bicara politik, meski dirinya adalah Ketua Umum DPP PAN, merasa terusik dengan munculnya gerakan yang ia nilai bisa merusak sistem demokrasi. Seharusnya, kata dia, semua pihak menghormati sistem demokrasi yang sudah susah payah dibangun oleh masyarakat.
"Saya biasanya tidak banyak bicara politik. Tapi munculnya gerakan-gerakan ini mengusik saya dan saya prihatin," kata Hatta yang kini menjabat Menko Perekonomian di Kabinet Indonesia Bersatu II saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Hatta meminta masyarakat untuk menghormati system building yang sudah dibangun sejak bertahun-tahun dengan bersusah payah. "Mari kita hormati sistem demokrasi yang sudah kita bangun dengan susah payah. Pada tahun 1998 saya juga menjadi aktivis untuk membangun building system ini," ajak Hatta.
(ndr/nvt)










































