"Kita berencana untuk berdemonstrasi normal dan damai, tidak ada upaya pembunuhan politik. Tapi kalau reaksi negara begitu serius dan radikal sehingga mengeluarkan protap ditembak di tempat pelaku kerusuhan itu berlebihan, lebay," kata Boni kepada detikcom.
Hal ini dikatakan Boni usai menghadiri diskusi 'Pro-kontra Calon Tunggal Kapolri Timur Pradopo' di Restoran Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Selasa (12/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makin terlihat polisi tidak mau peduli urusan HAM. Justru dengan begitu mereka membuka pintu pelanggaran HAM berikutnya dan bahkan bisa dipolitisasi," ujar Boni.
Boni yang juga akan ikut dalam aksi 20 Oktober nanti mengatakan, aksi yang akan digelar adalah aksi damai. Isu yang dimunculkan adalah penggantian SBY sebagai pemimpin negara.
"Ada wacana penggantian SBY dan itu sudah menjadi wacana tunggal di kalangan cendekiawan dan aktivis. Karena orang sudah gerah," ucap Boni.
Hal yang sama juga diungkapkan pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar. Ia khawatir dengan protap tembak di tempat terhadap pelaku kerusuhan.
"Protap baik tapi tidak bisa diandalkan sebagai alat yang melegitimasi seakan tidak ada tindak anarkis. Justru saya khawatir protap yang sudah diedit itu digunakan lebih anarkis lagi," jelas Bambang.
(ahy/gun)











































