Hamza Hutayir Mohammed (33) dan Mousa Ismael Haider (39) dituntut atas kematian enam prajurit Royal Military Police Inggris di Kota Majjar. Saat itu, sekelompok warga Irak menyerbu sebuah kantor polisi saat aksi protes terhadap operasi penggeledahan senjata di rumah-rumah.
"Kami tidak menemukan bukti yang cukup," kata hakim, Baligh Hamdi usai mendengarkan keterangan dari para saksi. Hakim pun membatalkan dakwaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut warga Majjar, pasukan memicu penyerbuan tersebut dengan melakukan penggeledahan senjata di rumah-rumah warga. Razia senjata itu telah melanggar perjanjian dengan para pemimpin setempat.
Menurut hasil penyelidikan di Inggris tahun 2006, keenam prajurit itu tewas setelah dipukuli dan berulang kali ditembak dari jarak dekat.
Atas putusan hakim, tersangka Haider sangat bahagia. "Saya senang akan keadilan dari pengadilan Irak. Tidak adil menuduh saya dengan kejahatan seperti itu," ujar Haider.
Pengacara Haider, Abbas Mahdi menyebut putusan tersebut sebagai putusan yang adil. "Jika ada bukti untuk menghukum mereka, saya tak akan membela mereka," tandasnya.
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan kasus ini belum berakhir sebab mereka masih bisa melakukan banding.
"Kami tahu bahwa keluarga korban akan sangat kecewa... namun kita tak punya pilihan kecuali menghormati putusan hakim-hakim Irak," demikian pernyataan kementerian.
(ita/nrl)











































