Biasanya untuk jarak sedang seperti ke kota atau ke pantai, taksi-taksi ini memasang tarif 10 Pound Mesir atau sekitar Rp 16 ribu. Kalau cuma berjarak di bawah 5 Km, mereka bahkan cuma memasang tarif 2,5 Pound Mesir atau Rp 4 ribu.
"Bensin di sini harganya 1 pound (Rp 1.650), kalau untuk taksi harganya hanya 0,80 pound (Rp 1.200)," ujar Ibrahim, sopir taksi yang mengantar kami ke pantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamatan detikcom, Sabtu (9/10/2010), taksi-taksi ini terdiri dari berbagai jenis mobil. Ada sedan keluaran baru, ada juga Mercedez keluaran tahun 1970-1980an.
Nah, biasanya kami lebih memilih yang Mercedez, walaupun tua tapi interiornya lebih lega. Di jok belakang, 3 pria dewasa masih dapat duduk dengan nyaman. Kalau sedan-sedan baru, umumnya lebih sempit. Ada taksi yang bercat putih dan merah, sama saja pelayanannya.
Kalau cara mengemudi berbeda-beda. Ada yang kalem, ada yang merasa jadi pembalap F1. Enak juga meliuk-liuk di antara lalu lintas Kota Arish yang ramai dengan kecepatan tinggi.
Yang unik, beberapa kali sopir taksi itu menolak dibayar karena tahu, Taryudi, penerjemah tim Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) di Mesir, merupakan Mahasiswa Al Azhar yang membawa turis dari Indonesia. Sopir tersebut tahu Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar.
"Tidak usah, tidak usah. Anda saudara saya," ujar sopir tersebut sambil mendorong Taryudi ke luar dari taksinya.
Wah, kapan ya bertemu sopir taksi seperti ini di Jakarta?
(rdf/van)











































