Dalam editorial yang dimuat Global Times, disebutkan bahwa panitia Nobel telah "mempermalukan dirinya sendiri". Menurut harian China berbahasa Inggris itu, penghargaan tersebut telah "terdegradasi menjadi alat politik yang melayani tujuan anti-China".
"Panitia Nobel sekali lagi menunjukkan arogansi dan prasangkanya terhadap negara yang telah membuat kemajuan ekonomi dan sosial paling mengagumkan dalam tiga dekade terakhir," demikian bunyi editorial tersebut menyinggung Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet yang memenangi Nobel Perdamaian 1989.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Liu, aktivis prodemokrasi China yang kerap kali dijuluki sebagai penjahat oleh pemerintah China, diumumkan meraih penghargaan Nobel Perdamaian pada Jumat, 8 Oktober kemarin. Pengumuman itu menuai kecaman keras dari pemerintah China.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Ma Zhaoxu mencetuskan, penghargaan bergengsi itu harusnya diberikan pada mereka yang bekerja untuk menggalang keharmonisan etnis, persahabatan internasional, perlucutan senjata.
Diingatkan Ma, Liu Xiaobo telah dinyatakan bersalah atas pelanggaran hukum China dan dihukum penjara oleh pengadilan China.
"Perbuatan-perbuatannya bertentangan dengan tujuan penghargaan Nobel Perdamaian. Dengan memberikan hadiah tersebut ke orang ini, panitia Nobel telah melanggar dan menghujat penghargaan itu," cetusnya.
Pada Desember 2009 lalu, Liu divonis penjara selama 11 tahun atas dakwaan subversif terhadap kekuasaan pemerintah. Aktivis HAM berumur 54 tahun itu sebelumnya juga pernah bertahun-tahun dipenjara atas keterlibatannya dalam aksi protes prodemokrasi di Tiananmen pada tahun 1989.
(ita/ita)











































