Korban Banjir Wasior: Air Itu Bak Tsunami

Korban Banjir Wasior: Air Itu Bak Tsunami

- detikNews
Sabtu, 09 Okt 2010 13:43 WIB
Korban Banjir Wasior: Air Itu Bak Tsunami
Wanokwari - Korban banjir bandang di Wasior, Papua Barat, Charlie (11), dan ibunya Irene (43), tidak kuasa menitikkan air matanya saat mengingat kejadian kelabu pada pekan lalu. Keduanya hanya bisa bersyukur pada Tuhan karena diberi keselamatan.

Charlie dan Irene ditampung di RS Manokwari, Papua Barat. Keduanya merupakan korban Banjir bandang yang dijenguk Menko Kesra Agung Laksono dan Mensos Salim Segaf, Sabtu (9/10/2010).

Kondisi Charlie yakni kedua kaki patah, bahu kanan terkilir dan tangan kanan patah. Saat banjir menerjang, Charlie akan berangkat ke sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiba-tiba Charlie melihat adanya aliran air deras dari atas gunung. Lantas dia terbawa air dan tidak sadarkan diri. Saat sadar, dia sudah tertimpa tumpukan pohon.

"Lalu saya teriak minta tolong. Kemudian ada yang menolong saya dan membawa ke RS ini," kata Charlie.

Sementara Irene, mengaku sudah memiliki firasat saat musibah itu terjadi. Sebelum banjir bandang itu, hujan turun deras dan ada danau yang meluap dari atas gunung.

Seketika itu juga air mengalir deras dan menimpa rumah warga termasuk rumah Irene. Irene pun terkena seng sehingga kepalanya robek. Kaki dan tangannya juga patah tertimpa pohon-pohon.

"Saya bersyukur masih selamat. Saya sempat terjepit kayu. Saya sempat lihat air itu tinggi seperti gelombang laut," tutur Irene.

Irene mengaku belum tahu apakah akan kembali ke rumahnya. Dia akan menunggu situasi dan kondisinya kondusif. "Ini saja masih luka-luka," tutupnya.

Tragedi banjir bandang telah menyebabkan Wasior luluh lantak. Informasi terakhir dari Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono, sudah 108 orang meninggal dunia dan 76 orang masih hilang.

Tercatat 1.049 orang kehilangan tempat tinggal dan sekarang tinggal di pengungsian. Mereka ditampung di Manokwari dan Nabire.Korban banjir bandang di Wasior, Papua Barat, Charlie (11), dan ibunya Irene (43), tidak kuasa menitikkan air matanya saat mengingat kejadian kelabu pada pekan lalu. Keduanya hanya bisa bersyukur pada Tuhan karena diberi keselamatan.
(nik/gah)


Berita Terkait