Abud jelas bukan orang kaya. Namun dia sangat ramah menyambut kami yang
kebetulan melintas di depan rumahnya.
"Selamat datang saudaraku," sambut Abud dalam bahasa Arab saat menyambut kami, Jumat, (8/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
minum, kami menolak tawaran tersebut. Lagipula kami hanya ingin melihat-lihat dan mengobrol.
"Memuliakan tamu adalah ajaran nabi," katanya.
Abud tinggal bersama istrinya Fatimah, putrinya Labibah dan 2 cucunya, Hanah dan Sufyan. Menurutnya sudah puluhan tahun mereka tinggal di tempat itu.
Sementara Abud berbincang, dua cucunya tampak santai tidur-tiduran di atas
pasir. Untuk tidur mereka hanya mengalasi pasir dengan kain sarung dan bantal. Tampaknya keluarga ini sudah terbiasa dengan kondisi di gurun pasir. Pekerjaan Abud sendiri tidak jelas, mungkin dia tinggal sambil membantu menjaga kebun kurma yang terletak tidak jauh dari sana.
Peralatan memasak milik keluarga ini tampak berserakan di sekitar gubuk. Abud juga memelihara belasan ekor ayam di belakang gubuknya. Ayam merupakan salah satu makanan favorit keluarga Mesir. Sekali makan ayam, orang Mesir memang bisa menghabiskan hingga setengah ekor ayam per orangnya.
Saat bulan September hingga Oktober, cuaca di Gurun memang bersahabat.
Bulan-bulan ini merupakan musim peralihan dari musim panas ke musim dingin.
Namun sulit membayangkan gubuk tersebut bertahan dari badai gurun saat cuaca
memburuk.
Untungnya lagi curah hujan di El Arish sangat rendah. Jika bercurah hujan
seperti Jakarta, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada keluarga
ini.
(rdf/mad)











































