Rakyat AS Ikut Prihatin Terhadap Banjir di Wasior

Rakyat AS Ikut Prihatin Terhadap Banjir di Wasior

- detikNews
Jumat, 08 Okt 2010 14:50 WIB
Rakyat AS Ikut Prihatin Terhadap Banjir di Wasior
Jakarta - Banjir bandhang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, jadi perhatian rakyat Amerika Serikat. Rasa prihatinan tersebut tercermin dalam surat Menlu Hillary Clinton yang ditujukannya kepada Presiden SBY.

Surat diterima dua hari yang lalu. Hal ini dikatakan oleh Jubir Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, sai salat jumat di Masjid Baiturahim, Jl Medan  Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (8/10/2010).

"Menlu AS juga sudah sampaikan secara tertulis dua hari yang lalu. Menyatakan rasa simpati yang dalam dari rakyat Amerika, on behalf of the people of United States. Secara tertulis mereka menyampaikan simpati kepada pemerintah dan rakyat Indonesia atas bencana di Wasior," ujar Julian.

Menyinggung wacana menetapkan bencana nasional terhadap bencana yang meluluh lantakan Kota Wasior itu, menurutnya belum ada keputusan dari pemerintah. Prioritas saat ini adalah proses evakuasi korban dan penanganan para pengungsi.

Perkembangan proses tanggap darurat tersebut, setiap sore dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Menkokesra kepada Presiden SBY. Berdasar laporan terakhir yang diterima dari BNPB, disebutkan bahwa situasi di lapangan masih belum memungkinkan bagi Presiden SBY untuk meninjau langsung.

"Instruksi kepada Menko Kesra dikeluarkan pada 5 Oktober lalu. Agar dikoordinasikan, dipastikan semua bantuan bisa langsung dilakukan dengan cepat dan tanggap, berkoordinasi dengan jajaran pemerintah daerah setempat dan Papua Barat," jelas Julian.

Berdasar laporan terakhir BNPB pada Kamis sore, jumlah korban tewas tercatat 91 orang dan 68 orang dinyatakan hilang. Sedangkan PMI Distrik Wasior melaporkan korban meninggal mencapai 95 orang, 76 orang hilang dan 1.061 luka-luka.

Kini tim penyelamat yang terdiri atas Tim SAR dengan dibantu TNI dan Polri terus melakukan pencarian korban. Alat berat turut dikerahkan untuk mencari korban. Sayangnya, pencarian tidak bisa dilakukan hingga malam  karena terkendala ketersediaan suplai listrik di lapangan.

(nwk/lh)


Berita Terkait