Saat sore hari, pantai ini ramai dikunjungi pelancong. Biasanya mereka menikmati matahari yang tenggelam di Laut Tengah. Namun, jangan kira ada wanita-wanita berbikini yang menikmati sinar matahari di sini. Yang ada adalah wanita-wanita Arish yang mengenakan cadar, atau kalau tidak pun berjilbab lebar hingga menutupi seluruh tubuh mereka.
Dibanding Kairo, masyarakat Arish memang lebih ketat menjalankan aturan agama. Wanita-wanita di sini mayoritas bercadar, atau berjilbab lebar. Hampir tidak ada yang tidak mengenakan jilbab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat menjelang matahari tenggelam adalah saat yang dinantikan para pengunjung. Saat itu, matahari benar-benar bulat dan seolah-olah perlahan tenggelam di Laut Merah. Indah sekali.
Di sepanjang pantai juga terdapat vila-vila yang disewakan untuk berlibur. Rata-rata vila berbentuk rumah ini disewakan untuk keluarga saat musim liburan. Biasanya ada yang menyewa selama satu bulan dengan harga sekitar Rp 3-4 juta per bulannya.
Sayangnya, pantai ini tampak kotor dengan sampah-sampah berupa botol minuman ringan yang berserakan. Beberapa fasilitas seperti sarana pedestrian juga tampak kurang terawat.
Saat detikcom mengunjungi pantai ini Rabu (7/10/2010), hanya tampak turis lokal. Tidak ada satu pun turis asing. Kondisi Arish yang berdekatan dengan Jalur Gaza membuat pengamanan lebih ketat. Pelancong pun enggan mengunjungi kawasan wisata ini.
Fasilitas di Arish sebenarnya cukup mendukung untuk menjadikan kota ini sebagai kota wisata. Transportasi seperti taxi dan bus mudah ditemui. Harganya pun sangat terjangkau.
Hotel dan penginapan pun banyak tersedia. Untuk hotel dengan fasilitas TV, kulkas, bathtub, dan kipas angin, harganya cuma sekitar Rp 180 ribu per malamnya.
Berminat mengunjungi kota ini?
(rdf/irw)











































