Aksi gabungan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada
dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu dilakukan di depan pintu gerbang
Mapolda DIY di Ringroad Utara Condongcatur, Sleman, Kamis (7/10/2010). Sebelumnya
massa berkumpul dari bundaran kampus UGM di kampus Bulaksumur, Yogyakarta.
Seperti aksi lainnya, massa juga membawa berbagai poster yang berisi tuntutan di antaranya bertuliskan "BHD simbol kegagalan reformasi Polri, usut rekening gendut polisi, tuntaskan reformasi Polri."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang peserta aksi Aza El Munadiyan dalam orasinya menyatakan menjelang
berakhirnya masa jabatan Kapolri Bambang Hendarso Danuri ternyata masih banyak
permasalahan di tubuh polri yang tidak terselesaikan. Justru saat ini banyak
masalah yang tidak terselesaikan seperti kasus Bank Century, makelar kasus,
dugaan rekening gendut polisi, kasus kekerasan dan premanisme hingga pelanggaran
HAM oleh Densus 88.
"Banyaknya kasus yang tidak selesai itu menunjukkan bila reformasi di tubuh Polri gagal dan mengalami kemunduran," ungkap Aza.
Menurut dia, kepemimpinan di bawah BHD dinilai gagal. Oleh karena itu pihaknya menuntut agar BHD dievaluasi sebelum kapolri baru terpilih, Selain itu mahasiswa
juga mempertanyakan bakal terpilihanya Timur Pradopo sebagai calon pengganti
BHD. Sebab Timur juga dianggap bermasalah berkaitan dengan kasus penembakan
mahasiswa Trisakti tahun 1998.
"Kami menolak Timur Pradopo karena track recordnya tidak layak jadi Kapolri," kata Aza.
Setelah berorasi bergantian selama 40 menit, massa kemudian ditemui Karo Ops
Polda DIY, AKBP Sukamto. Di hadapan massa, dia berjanji akan menampung dan
meneruskan aspirasi dan tuntutan mahasiswa.
(bgs/nrl)











































