Tapi dalam rapat terbatas kabinet yang membahas masalah Polhukam, Kamis (7/10/2010) siang ini ada suasana lain. Setidaknya ada empat mic milik TVRI dan tiga stasiun TV swasta yakni Metro TV, tvONE dan Trans TV.
Sepuluh menit sebelum rapat dimulai, atau sekitar pukul 13.50 WIB, para reporter TV yang mic-nya dipasang di depan Presiden tersebut tampak sibuk memasang mic, dan tentunya, mereka harus menarik kabel puluhan meter, untuk kepentingan live.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di rapat-rapat kabinet sebelumnya, mic para wartawan TV cukup ditaruh di microfone yang letaknya ujung, dekat dengan pintu keluar. Harapannya, setelah Presiden membuka rapat, mereka dengan mudah mengambil mic tersebut dan langsung menunggu rapat kabinet di luar.
Mic media yang live pun juga cukup ditaruh di microfone ujung ruangan yang meja dan kursi untuk rapat berbentuk bulat panjang.
Apakah ini terkait dengan insiden marahnya Presiden saat hendak jumpa pers pembatalan kunjungannya ke Belanda di Bandara Halim Perdanakusuma 5 Oktober lalu? Belum ada jawaban resmi dari Istana.
Namun, setidaknya, publik diingatkan dengan persitiwa marahnya Presiden 5 Oktober lalu. Waktu itu, Presiden tidak melihat mic para wartawan ditaruh di podium yang hendak dia pakai untuk jumpa pers. Karena memang, podium tersebut didesain tidak untuk memasang mic yang banyak.
Waktu itu, Presiden kembali ke ruangan, menunggu beberapa mic stasiun TV dipasang. Setelah mic tampak banyak, baru Presiden memulai jumpa pers, dan mengabarkan berita yang 'mengguncang dunia', bahwa dia membatalkan kunjungannya ke Belanda.
Presiden SBY memang beberapa kali dalam berbagai kesempatan meminta mic para wartawan ditaruh di depan podium, karena dia hendak jumpa pers. Namun belum pernah, dalam sidang terbatas ataupun paripurna kabinet.
(anw/lrn)











































