FAO: Biodiversitas Hutan Dunia dalam Bahaya

20th Committee on Forestry, Roma

FAO: Biodiversitas Hutan Dunia dalam Bahaya

- detikNews
Kamis, 07 Okt 2010 15:22 WIB
FAO: Biodiversitas Hutan Dunia dalam Bahaya
Roma - Kerusakan biodiversitas hutan dunia tersebut disebabkan oleh tingginya tingkat penggundulan dan degradasi hutan, serta berkurangnya luas hutan primer.

Demikian pernyataan badan pangan dan pertanian PBB, Food and Agriculture Organization (FAO), seperti disampaikan Atase Pertanian KBRI Roma Dr. Erizal Sodikin kepada detikcom, Kamis (7/10/2010).

Meskipun demikian, FAO juga mencatat bahwa di banyak negara terjadi perbaikan positif terhadap upaya konservasi diversitas biologi hutan melalui penyediaan area konservasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bertepatan dengan pertemuan Committee on Forestry ke-20 dan World Forestry Week ke-2 di kantor pusat FAO Roma, Italia (4-8/10/2010), FAO mengeluarkan laporan final terkait hutan dunia dengan judul FAO’s Global Forest Resources Assessment 2010 (FRA 2010).

Hal menarik dari laporan FRA 2010 adalah dalam kurun waktu 2000 sampai 2010 sekitar 13 juta hektar per tahun terjadi perubahan hutan menjadi peruntukan lain, atau mengalami kerusakan akibat bencana alam.

Ini berarti terjadi penurunan kerusakan sekitar 3 juta hektar per tahun dibandingkan dengan kondisi yang terjadi tahun 1990-an, di mana kerusakan hutan saat itu mencapai sekitar 16 juta hektar per tahun.

Berdasarkan urutan tingkat kehilangan hutan primer maka Amerika Selatan menempati posisi pertama diikuti oleh wilayah Afrika dan Asia.

Selanjutnya FAO juga melaporkan bahwa sejak tahun 1990 penyediaan hutan untuk konservasi diversitas biologi hutan meningkat lebih dari 95 juta hektar. Sekitar 46% terjadi pada 2000–2005 dan untuk saat sekarang 12% dari hutan dunia atau setara dengan 460 juta hektar diperuntukan bagi konservasi diversitas biologi hutan.

Asisten Direktur Jenderal FAO yang menangani tentang kehutanan, Eduardo Rojas, mengatakan bahwa hutan dunia merupakan sumber penting bagi diversitas biologi hutan.

"Biodiversitas ini merupakan harta karun penting khususnya tidak hanya bagi sumber adaptasi, tapi juga sumber mitigasi terhadap perubahan lingkungan global," demikian Rojas.

Sebagai informasi FAO setiap 2 tahun sekali mengadakan pertemuan Committee on Forestry (COFO) yang membahas berbagai hal terkait dengan persoalan hutan dunia. Untuk tahun ini COFO mengambil tema Forest and Sustainable Development (Hutan dan Pembangunan Berkelanjutan, red).

Delegasi Indonesia pada pertemuan ini diwakili dari Kementerian Kehutanan dan unsur KBRI Roma dengan dipimpin oleh Penasehat Senior Menteri Kehutanan Dr. Boen M. Purnama, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekjen Kementerian Kehutanan. (es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads