Pasalnya, sejak berfungsi tahun lalu, BKT mengalami beberapa kendala. Salah satunya sampah yang ada mengalir ke BKT.
"Kalau hari-hari biasa ini warnanya hitam, sampahnya menumpuk, dan bau. Apalagi kalau musim kemarau, hitamnya pekat," kata Pejabat Pembuat Komitmen Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC), Parno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, untuk menangani masalah sampah di BKT ini, pihak BBWSCC belum membentuk tim khusus. Mereka sebisa mungkin setiap pagi membersihkan sampah-sampah di sekitar BKT.
"Sehari bisa 20 meter kubik sampah kita angkut dengan truk-truk sampah. Bisa dibayangkan setahun berapa," imbuhnya.
Untuk itu, ia mengimbau masyarakat lebih memperhatikan masalah pembuangan sampah ke kali.
"Kalau banyak sampah nanti ada sedimentasi. Nanti meluap dan banjir lagi. Makanya jangan buang sampah di kali," imbau Parno.
Masalah lain yang masih menjadi kendala bagi BKT adalah pengerukan yang belum sempurna di beberapa lokasi sehingga debit air yang mengalir berkurang.
"Di Malaka Sari, Rawa Bebek, dan Ujung Menteng itu masih perlu pengerukan," kata Parno.
Rencananya, pengerukan akan rampung pada tahun 2011. Selain itu, BKT sepanjang 23,5 kilometer yang memotong lima aliran sungai di Jakarta Timur ini akan dimanfaatkan sebagi konservasi air dan rekreasi.
"Ini akan membuat Jakarta semakin berwarna," tuturnya.
(ayu/lrn)











































