"Aku sempat mengunjungi Desa Banawa, tempat pusat kerajinan kain tenun Donggala yang berbahan dasar benang sutra," ujar Inka, ketika dihubungi detikcom, Selasa (5/10/2010).
"Sempat Belajar tenun juga di sana, rasanya senang banget. Aku juga diperlihatkan contoh kain tenun yg sudah jadi," lanjut Inka mahasiswi ITB Jurusan Arsitek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kain tenun Donggala dijual dengan harganya yang cukup fantastis. Satu kain sarung dihargai 600 ribu sampai 1 juta rupiah," ujar Hadi lagi.
Penduduk Donggala juga masih memegang teguh adat istiadat setempat. "Kehidupan mereka sangat unik. Dari depan desa sudah terlihat kesibukan ibu-ibu yang sedang menenun di depan teras rumahnya. Kegiatan seperti itu merupakan cara sosialisasi dengan para tetangga," tutur Inka.
"Desa Banawa masih menjaga tradisi perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Yang boleh menenun hanya perempuan," timpal Hadi yang tidak kebagian mencoba menenun.
Namun untuk sampai ke Donggala, Inka dan Hadi harus berusaha ekstra. "Sebenarnya sih dari jembatan penyeberangan, Donggala tidak terlalu jauh. Tapi petunjuk jalan yang ada di sana sedikit, jadi memang harus lebih sering bertanya ke penduduk setempat," ujar Inka.
Transportasi yang diigunakan pun harus kendaraan pribadi atau sewaan. "Transportasi di sana hanya pedati yang dimiliki oleh penduduk setempat," timpal Hadi yang juga kuliah di ITB Jurusan Kimia.
Namun demikian, kesulitan yang mereka alami terbayar oleh keindahan Pantai Talise terutama di malam hari. "Banyak lampu-lampu di sana, jadi menambah keindahan Pantai Talise," tutur Inka.
(tbs/tbs)










































