"Setelah tahu SBY menjatuhkan pilihan, TP ngga boleh main-main harus all out. Terutama masalah-masalah prioritas seperti penganiayaan aktivis ICW, kasus majalah Tempo, terorisme, perampokan," kata Penasehat Kapolri Bachtiar Aly saat berbincang dengan detikcom, Selasa (5/10/2010).
Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UI ini, kasus-kasus yang menyita perhatian masyarakat harus direspon segera. Polri harus segera mengembalikan kepercayaan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah penganiayaan aktivis ICW dan pelemparan ke kantor Tempo, kata Bachtiar, menjadi prioritas karena isu yang beredar selalu menyudutkan Polri. Karenanya, Bachtiar berharap, Timur bisa menjadikan kasus itu sebagai masalah yang didahulukan untuk diselesaikan.
"Program yang baik silakan dilanjutkan. Tapi reformasi kultural di kepolisian harus jadi catatan penting dia," tukasnya.
Terkait banyaknya kalangan yang menilai Timur mempunyai masalah saat tragedi Trisaksi 1997 lampau, Ketua Dewan Guru Besar FISIP UI ini mengatakan bahwa Timur tidak bisa langsung dipersalahkan. Saat insiden itu terhadi, Timur hanya menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat dan mengikuti komando atasan.
"Saat itu dia bagian dari sistem yang besar. Tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Harus ada alasan dan buktinya," imbuhnya.
SBY memilih Komjen Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri. Terpilihnya mantan Kapolda Metro Jaya ini cuma beberapa jam saja setelah dia mendapatkan kenaikan pangkat dan menduduki posisi baru sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) pada Senin (4/10) kemarin.
Timur lahir di Jombang, Jatim, 10 Januari 1956. Dia merupakan lulusan Akpol 1978. Dia pernah menjadi Kapolres Jakarta Barat pada 1997-1999 saat peristiwa Trisakti dan Semanggi meletus, Kapolres Jakarta Pusat (1999-2000), dan Kapolwiltabes Bandung (2001) serta menjadi Kapolda Banten, Kapolda Jabar dan terakhir Kapolda Metro Jaya.
(ape/ndr)











































