Disebut-sebut pertemuan Nanan dengan para politisi PDIP itu diketahui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tak berkenan, namun Ketua DPP PDIP bidang Hukum Trimedya Panjaitan membantah dengan tegas.
"Kalau mau safari politik, pasti ketemu sama saya. Karena saya kan bidang hukum. Saya hafal polisi A sampai Z. Tapi nggak pernah ketemu (Nanan), bahkan saya pernah BBM dia, nggak pernah dibales. Saya ping dua kali nggak dijawab-jawab," cerita Trimedya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengakui memang dekat dengan Nanan, apalagi Nanan menjadi Kapolda Sumut, yang menjadi daerah pemilihannya. Tapi Trimedya tetap tegas mengatakan tidak pernah bertemu.
Trimedya mengatakan Nanan batal menjadi Kapolri karena koalisi partai di Sekretariat Gabungan tidak setuju.
"Koalisi dalam Sekgab tidak setuju. Bukan cuma Nanan tapi dua orang itu, dengan Pak Imam. Yang penting keputusannya bukan dua orang itu. Dengan Mas Tjahjo, Bu Mega dengan Pak Taufiq itu nggak ada itu pertemuan," tandas dia.
SBY memilih Komjen Timur Pradopo di detik-detik akhir, sebelum keberangkatannya ke Belanda hari ini. Timur menyisihkan calon lainnya yang digadang-gadang seperti Komjen Imam Sudjarwo, Komjen Nanan Soekarna maupun Komjen Ito Sumardi.
Timur lahir di Jombang, Jatim, 10 Januari 1956. Dia merupakan lulusan Akpol 1978. Dia pernah menjadi Kapolres Jakarta Barat pada 1997-1999 saat peristiwa Trisakti dan Semanggi meletus, Kapolres Jakarta Pusat (1999-2000), dan Kapolwiltabes Bandung (2001) serta menjadi Kapolda Banten, Kapolda Jabar dan terakhir Kapolda Metro Jaya.
(mad/nwk)











































